Antara
harapan dan realita
Saat banyak orang bisa menulis dan
tulisannya dimuat di surat kabar, di media , atau pun menjadi buku yang siap publikasi, gemes
rasanya hati ini. Orang lain bisa, aku juga pasti bisa. Begitu keyakinanku setiap
kali tumbuh semangat dari dalam diri.
Sepertinya para penulis itu tidak pernah kehabisan bahan untuk ditulis.
Semua yang dilihat, didengar, dialami bisa menjadi bahan tulisan. Aku pun ingin
seperti mereka yang bisa menulis, menghasilkan karya-karya nyata berupa jurnal,
makalah atau pun buku.
Terkadang muncul ide untuk berlatih
menulis tentang sesuatu yang dilihat atau dialami. Saat itulah aku segera
mengambil lapotop. Namun setelah beberapa saat di depan laptop dan baru saja
akan memulai menulis timbul keragauan. Apa aku bisa? Ide-ide yang tadinya penuh
berjubel, tiba-tiba mandek, hilang entah ke mana. Bingung mau menulis apa.
Sebagai sebuah tantangan untuk berlatih menulis,
kucoba terus menulis saja. Aku tidak tahu pasti, hasil akhirnya nanti seperti
apa. Kucoba kembali pada ide awal menulis yaitu berlatih. Maka aku lanjut
menulis, menulis, dan menulis. Kata-demi kata terangkai. Begitu mendapat satu
paragraf kemudian aku baca tulisankku. Ada hal aneh dari tulisan ini, tidak
nyambung, tidak ada inti, bahkan kalau dibaca berulang-ulang aku jadi tertawa
sendiri, aneh. Namun, karena aku berpendapat bahwa ini adalah latihan, maka aku
terus lanjutnkan saja.
Sampai pada paragraf ini, mau melanjutkan ke paragraf berikutnya
kembali aku bingung. Terus apa lanjutannya ya? Taka ada kata-kata yang cocok kutuliskan. Meski sudah berusaha keras untuk melanjutkan
menulis, tetap saja tak ada kata-kata yang terangkai. Aku pun terus menulis, kuhapus,
menulis lagi, kuhapus lagi, begitu berulang-ulang. Alhasil inilah isi pada
paragarf keempat. Ternyata menulis tidaklah mudah.
Mentok,
tak ada ide lagi, aku melirik jam dinding di samping kanan tempat dudukku.
Tepat pukul 12.00, aku bergegas untuk pulang. Hari ini aku melaksanakan tugas
di sekolah ditemani beberapa orang guru dan karyawan. Sementara itu, teman-teman guru lainya
melaksanakan WFH ( Work From Home)
pascamerebaknya penyebaran virus corona. Sebenarnya ingin sekali aku
memanfaatkan momentum ini untuk mewujudkan keinginanku bisa menghasilkan sebuah
tulisan, meski satu judul saja. Selama ini aku beranggapan bahwa sebagai kepala
sekolah, waktuku habis untuk memberikan
pelayanan pendidikan di sekolah. Menulis tentunya membutuhkan waktu, tenaga,
dan pikiran tersendiri. Pasti akan sangat membebani aku dan sulit mengatur
waktuku. Pekerjaan di sekolah saja lebih sering tidak selesai kukerjakan di
sekolah dan harus akau bawa pulang ke rumah.
Aku berpikir, akan kuteruskan latihan
menulis ini di rumah, nanti malam. Begitu semangatnya aku sambil menutup laptop
dan memasukkannya ke tas gendongku. Segera kuisi buku absensi kepulangan.
Bersama dengan teman-teman yang piket hari ini, aku bergegas pulang. Ide
menulis muncul lagi sembari aku melangkahkan kaki menuju area parkir, di mana
sepeda motorku terparkir di sana. Bissmillah, aku akan mengisi hari-hari
berlatih menulisku mulai saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar