Kamis, 09 April 2020

Tulisan pertamaku



Antara harapan dan realita

Saat banyak orang bisa menulis dan tulisannya dimuat di surat kabar, di media , atau pun  menjadi buku yang siap publikasi, gemes rasanya hati ini. Orang lain bisa, aku juga pasti bisa. Begitu keyakinanku setiap kali tumbuh semangat dari dalam diri.  Sepertinya para penulis itu tidak pernah kehabisan bahan untuk ditulis. Semua yang dilihat, didengar, dialami bisa menjadi bahan tulisan. Aku pun ingin seperti mereka yang bisa menulis, menghasilkan karya-karya nyata berupa jurnal, makalah atau pun buku.

Terkadang muncul ide untuk berlatih menulis tentang sesuatu yang dilihat atau dialami. Saat itulah aku segera mengambil lapotop. Namun setelah beberapa saat di depan laptop dan baru saja akan memulai menulis timbul keragauan. Apa aku bisa? Ide-ide yang tadinya penuh berjubel, tiba-tiba  mandek, hilang entah ke mana. Bingung mau menulis apa.

Sebagai sebuah tantangan untuk berlatih menulis, kucoba terus menulis saja. Aku tidak tahu pasti, hasil akhirnya nanti seperti apa. Kucoba kembali pada ide awal menulis yaitu berlatih. Maka aku lanjut menulis, menulis, dan menulis. Kata-demi kata terangkai. Begitu mendapat satu paragraf kemudian aku baca tulisankku. Ada hal aneh dari tulisan ini, tidak nyambung, tidak ada inti, bahkan kalau dibaca berulang-ulang aku jadi tertawa sendiri, aneh. Namun, karena aku berpendapat bahwa ini adalah latihan, maka aku terus lanjutnkan saja.

Sampai pada paragraf  ini, mau melanjutkan ke paragraf berikutnya kembali aku bingung. Terus apa lanjutannya ya? Taka ada kata-kata yang cocok kutuliskan.  Meski sudah berusaha keras untuk melanjutkan menulis, tetap saja tak ada kata-kata yang terangkai. Aku pun terus menulis, kuhapus, menulis lagi, kuhapus lagi, begitu berulang-ulang. Alhasil inilah isi pada paragarf keempat. Ternyata menulis tidaklah mudah.

Mentok, tak ada ide lagi, aku melirik jam dinding di samping kanan tempat dudukku. Tepat pukul 12.00, aku bergegas untuk pulang. Hari ini aku melaksanakan tugas di sekolah ditemani beberapa orang guru dan karyawan.  Sementara itu, teman-teman guru lainya melaksanakan WFH ( Work From Home) pascamerebaknya penyebaran virus corona. Sebenarnya ingin sekali aku memanfaatkan momentum ini untuk mewujudkan keinginanku bisa menghasilkan sebuah tulisan, meski satu judul saja. Selama ini aku beranggapan bahwa sebagai kepala sekolah,  waktuku habis untuk memberikan pelayanan pendidikan di sekolah. Menulis tentunya membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran tersendiri. Pasti akan sangat membebani aku dan sulit mengatur waktuku. Pekerjaan di sekolah saja lebih sering tidak selesai kukerjakan di sekolah dan harus akau bawa pulang ke rumah.

Aku berpikir, akan kuteruskan latihan menulis ini di rumah, nanti malam. Begitu semangatnya aku sambil menutup laptop dan memasukkannya ke tas gendongku. Segera kuisi buku absensi kepulangan. Bersama dengan teman-teman yang piket hari ini, aku bergegas pulang. Ide menulis muncul lagi sembari aku melangkahkan kaki menuju area parkir, di mana sepeda motorku terparkir di sana. Bissmillah, aku akan mengisi hari-hari berlatih menulisku mulai saat ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Portofolio Digital

Selamat datang di Portofolio Digital saya Saya,  Eni Indarwati, M.Pd.  Pengawas Sekolah Dasar di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Blo...