Aku Mulai Bimbang Belajar Menulis
Kamis siang, 9 April 2020 kubuka grup wa
angkatan sekolah guru. Ada Informasi pelatihan menulis via online bersama Omjay dkk. Setelah info ku forward ke grup wa di sekolahku, aku segera mendaftarkan diri.
Dengan mengirimkan nomor wa dan alamat sekolah kuberanikan diri untuk
mendaftar. Mungkin ini saat yang tepat bagi aku mengikuti pelatihan untuk
mewujudkan keinginan berlatih menulis.
Sampai malam belum ada tanggapan. Pagi
hari bakda salat subuh kubuka wa, “jrrengg”
ada tanggapan plus kiriman buku online
“Menulislah Setiap Hari
dan Buktikan Apa yang Terjadi” dan instruksi untuk
membaca-baca dulu buku yang dikirimkan. Aku mulai membuka isi buku. Hanya
sepintas kulihat judul-judulnya, menarik. Waow, ……sepertinya keren ini! Namun
karena ada hal yang harus aku kerjakan maka kututup buku online dan mengerjakan
pekerjaan rumah.
Siang hari aku buka kembali wa, ternyata
ada grup baru, “Belajar Menulis gel 8” baru saja admin masukkan nomorku di grup
tersebut. Kupikir pembelajaran menulis daring baru akan dimulai. Namun beberapa
saat kemudian, ratusan chat muncul. Aku mulai menyimak. Ternyata tadi malam
materi ke-7 sudah diberikan. Kuikuti terus ….terus…. dan aku merasa tidak tepat
mengikuti pembelajaran seperti ini. Ibarat orang makan, baru beberapa suap aku
merasa mual, pengin muntah, pening rasanya kepalaku. Dari grup ini kukatahui
teman-teman sudah mahir menulis. Mereka menulis sudah menggunakan blog. Sementara aku, sama sekali belum
pernah menulis. Aku belum bisa membuat blog.
Keraguan mulai menghantui pikiranku.
Kulanjutkan atau berhenti di sini. Buat apa susah-susah mengikuti pelatihan
ini, pikirku. Akhirnya kuputuskan untuk menyimak saja. Di tengah kebimbnganaku
untuk lanjut atau berhenti, aku ingat buku yang dikirim admin, dan ternyata
baru kuketahui yang mengirim buku ini adalah Omjay. Semoga aku tidak salah, he he he ….. Aku mulai membukaa-buka isi
buku Omjay “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa
yang Terjadi”. Baru membaca judulnya saja aku kembali
tertarik untuk menulis. Beberapa judul mulai bukaca. Betul sekali isinya
rileks, menceritakan pengalamannya sendiri, dan lebih banyak memitovasi.
Beberapa kata sempat menggelitik pikiranku diantanya bahasanya renyah, ibarat
makanan gurih dan enak dicerna.
Semangat untuk belajar menulis
kembali muncul. Kuambil laptop dan kumulai mengetik. Kata-demi kata mengalr
begitu saja. Tidak kupedulikan apakah ada inti atau pesan yang kusampaikan lewat
tulisanku ini atau tidak. Masa bodoh! begitu pikirku. Pokoknya aku harus menulis
saja. Jari jemariku mulai lincah menekan tombol keybord lapotopku. Sesekali aku
berhenti karena kehabisan kata-kata. Aku tak pedulikan diksi. Aku tak pedulikan
koherensi kalimat, aku tak pedulikan koherensi paragaf. Tak kupedulikan
semuanya. Aku ingat pesan Omjay dalam bukunya, “Jadilah penulis terkenal dengan membiasakan diri
menulis setiap hari.. Menulis apa saja yang ada dalam alam pikirannya saat itu
dan membuat tulisannya penuh makna agar enak dibaca.”
Setelah selesai menulis di hari kedua
ini, kuambil hp kuberanikan diri mengirim pesan singkat kepada Omjay.

Selamat bukk..awal yang bagus.Selamat bunda🙏
BalasHapusTerima kasih Bu Trini., mari saling suport
BalasHapus