11 LANGKAH MENDESAIN BUKU PELAJARAN
Kuliah online Bersama Narasumber
Dr. PAIDI, S.Pd., M.TPd
CP: 082306325497, 081539320222
Blog: https://pdsmk1bkl.blogspot.com
Publikasi :
BUKU
1. “Membuat Laporan Keuangan dengan MyOB 19.6” Edisi Perdana tahun 2017 diterbitkan oleh Penerbit Salemba IV Jakarta.
2. “Membuat Laporan Keuangan dengan MyOB 19.6” Edisi I tahun 2018 diterbitkan oleh Penerbit Salemba IV Jakarta.
3. “Membuat Laporan Keuangan dengan MyOB 19.6” Edisi II tahun 2019 diterbitkan oleh Penerbit Salemba IV Jakarta.
4. Buku Ajar Simulasi dan Komunikasi Digital, Tingkat SMK/MAK Kelas 10 tahun 2019 diterbitkan oleh Penerbit ANDI Jogyakarta.
JURNAL INTERNASIONAL
1. Utilization Of Mobile Phones To Apply Blended Learning At Higher Education: Computer Subject at State Vocational Hight School 1 Bengkulu oleh Paidi & Basuki Wibawa, International Jounal Of Engineering & Technology (IJET), (2018).
2. The Developnen Of Blended Learning Based On Handphone for Computer System Subject on XI Grade of SMKN 1 Bengkulu City, Humanities & Social Sciences Reviews eISSN: 2395-6518, Vol 7, No 3, 2019, pp 497-502.
Drs. Paidi berbagi pengetahuan dengan peserta belajar menulis online tentang cara mendesain buku pembelajaran. Teknik dan pendekatan digunakan mengacu pada tokoh fenomenal bidang desain pembelajaran yaitu Prof Dr. Atwi Suparman (mantan rektor UT) dan Dick & Carrey.
Secara umum Proses
perancangan desain pembelajaran terdiri dari 11 langkah sebagai berikut:
Langkah 1, kita perlu
mendapatkan data dan informasi guna mendapatkan masukan dari siswa/pengguna
atas materi-materi yang dianggap sulit atau perlu dipelajari lebih lanjut
Langkah 2, Berdsarkan data yg didapat
dari langkah 1 selanjutnya kita perlu membuat identifikasi kebutuhan peserta
didik terhadap mata pelajaran / bahan yang akan kita rancang
Langkah 3, Berdasarkan data
langkah 2 selanjutnya kita mulai membuat analisis instruksional/pembelajaran
mata pelajaran yang akan kita rancang
Langkah 4, Seorang perancang
perlu mendapatkan gambaran karakteristik peserta didik yang akan menjadi target
atau pemakai buku yg kita rancang
Langkah 5, Membuat rumusan
tujuan instruksional khusus (penggunaan istilah instruksional disini
berdasarkan sumber asli yg dikarang oleh Dick & Carrey yaitu instructional)
Langkah 6, Melakukan penyusunan
TES
Langkah 7, Membuat perencanaan
strategi instruksional/pembelajaran yang akan digunakan (dalam hal ini sy merancang
pembelajaran secara blended learning)
Langkah 8, Mengembangkan dan
memilih bahan instruksional. Bahan pembelajaran yang dirancang dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu bahan tercetak dan bahan online. Dalam hal perancangan bahan
pembelajaran (Buku) dapat digunakan teori Rothwel dan untuk bahan online bisa
menggunakan teori hannafin)
Langkah 9, setelah draft bahan
tersedia (langkah 8) selanjutnya perlu dilakukan evaluasi formatif sbb: 1.
one-to-one expert dengan melibatkan 4 orang pakar (pakar Desain, pakar Media,
pakar Materi, pakar bahasa); 2. One-to-one learner (melibatkan 3 orang siswa
yang berasal dari siswa peringkat atas, menengah dan bawah); 3. Evaluasi Small
group (melibatkan sekitar 9 siswa yang berasal dari kelompok, menengah dan
bawah); 4. Field trial yaitu tahap uji coba luas dengan melibatkan siswa
sekitar 30 siswa yang berasal dari
kelompok Atas, menengah dan bawah.
Langkah 10, Setiap tahapan mulai evaluasi one-to-one,
evaluasi small group akan menghasilkan namanya draft bahan pembelajaran dan
setelah field trial baru dinamakan prototipe bahan pembelajaran.
Langkah 11, khusus untuk langkah yang terakhir Evaluasi
Sumatif sifatnya tidak harus dilakukan dalam proses desain pembelajaran karena
harus dilakukan oleh pihak lain.Sedangkan untuk buku pembelajaran yang
dirancang untuk keperluan penerbit bisanya pihak penerbit sudah mempunyai
format/standar tertentu. Sehingga jika penulis ingin memasukkan buku agar bisa
diterbitkan oleh penerbit maka format yg digunakan harus mengacu kepada format
yang digunakan oleh penerbit.
Narasumber Menjawab:
P1 (Andy Muhtadin -Beltim-Babel)
Assalamualaikum..selamt
sore menjelang siang pak Paidi mau tanya :
- Setelah melihat dan memahami PPT, Elearning SMK Bengkulu, saya berasumsi bahwa itu adalah desain belajar untuk program sekolah Afirmasi dan mirip classroom kira- kira tanggapan Bapak seperti apa?
- Tolong beritahu kami cara praktis mendesain pembelajaran seperti SMKN Bengkulu?
Terimakasih Mas
Andi (Babel), utk pertanyaan 1, kebetulan saya pernah merancangkan sebuah desain pembelajaran untuk SMKN 1 Bkl, dimana
waktu itu pihak sekolah kesulitan untuk mencari pola pembelajaran untuk siswanya yg
melaksanakan di industri sekitar 6 bulan, maka saya buatkan sebuah konsep namanya blended learning dan alhamdulilah bisa
digunakan dengan media yg dipakai siswa dan guru kala itu adalah Handphone.
Praktek pembelajarannya memang menggabungkan antara pembelajaran di classroom dengan
online;
2. Untuk cara praktisnya sepertinya bisa mas
Andy ikuti alur yg ada di slide no. 7 ttg Pengembangan Blended Learning Berbasis
Handphone (BLISH)
P2 (Rasita dari Kab Mukomuko Bengkulu tugas di SDN 16 Penarik)
Pertanyaannya untuk
langkah yg ke 9 mencari pakarnya agak susah di daerah bagaimana mengatasinya,
apa lagi kami dari SD agak terbatas kemampuan serta personilnya.
Untuk pertanyaan
mbak Rasita, alhamdulilah untuk
pakar yang
dimaksud Prodi S2 Teknologi Pendidikan
Unib sudah banyak mbak yang bisa, dengan syarat ybs sudah mencapai kualifikasi
S3/Doktor (Pendapat Sugiyono dalam Bukunya R&D) atau juga di kampus atau
lembaga lain juga bisa selagi sudah ada bukti kepakarannya mbak.
P3 (Supyanto dari Kota Bekasi,)
Assalamualaikum
Wr.Wb. Selamat Sore Pak Dr. Paidi, mohon penjelasan dalam desain Instruksional
itu mengenal ada tes formatif dan sumatif. Apa bedanya?
Untuk pertanyaan
mas Supyanto, yang dimaksud TES Formatif disini adalah tes yang dibuat
(modelnya bisa multiple choice, Essay dll) atas materi yang ada di bahan
pembelajaran. Tes ini dibuat oleh si perancang buku yng sebelumnya telah
melalui telaah oleh pakar dan uji validitas maupun reabilitasnya. Sedangkan Tes
Sumatif dalam konsep desain ini adalah penilaian oleh lembaga lain (eksternal)
atas kelayakan bahan yang dibuat oleh si Perancang buku tsb.
P4 (Ridwan Nurhadi)
Selamat siang Pak
Paidi.. kalau boleh tau apa nama aplikasi e learning nya. Kayaknya keren
banget.
Software yang
pernah saya untuk e-learning
tersebut menggunakan moodle, murah meriah pak karena sifatnya open source. Tapi
saat ini tidak bisa masuk lagi link tersebut karena sudah saya serahkan ke pihak SMKN 1
Kota Bengkulu. Jika mas Ridwan ingin melihat lebih jauh isinya nanti sy coba
mintakan sama pihak SMKN 1, jika sdah ada hasilnya sy sampaikan kepada om Jay
P5 (Bu Iez dari Lumajng)
Bertanya apakah
langkah-langkah mendesain cara mengembangkannya sama dengan model dick and Carry ya?
Betul mbak Iez,
karena sy juga menggunakan model Dick
& Carrey. Namun mbak Iez juga bisa
mengkombinasikan dengan teori/model lain seperti pada langkah 8 selagi sesuai
dengan karakteristik bahan pembelajarannya.
Pertanya yg kedua, yang dimakusd dengan Research versi
penerbit ini apakah blended learning yg
dimaksd Bapak
Heeee….. bukan, kalau Versi
penerbit biasanya ini ada kebutuhan tertentu yang ditetapkan oleh penerbit
karena menyangkut untuk
keuntungan penjualan dll. Pihak penerbit biasanya sudah punyak team editor sendiri, seperti yang
pernah sy lakukan untuk memperbaiki draft buku di Penerbit Salemba IV -
Jakarta, sehingga buku tsb bisa dicetak/diterbitkan oleh Salemba IV.
P6 (Ika S. Tangerang)
Boleh dijelaskan
mengenai teori rothwel dan teori hannafin pada langkah ke 8 dalam.mendesain
pembelajaran
Tidak, blended
learnin itu sebuah model pembelajaran, sedangkan yg sy masukd Reseacrh versi
penerbit ini lebih pada aturan tata cara pengetikan seperti desain cover, isi
dll yang diberlakukan oleh penerbit jika buku tsb dicetak oleh Penerbit.
Utk pertanyaan mbak
Ika, Maaf sy ada salah tulis tadi Teori Rowntre itu adalah cara-cara untuk
membuat buku yg sifatnya tercetak. Dan Hannafin itu untuk merancang bahan yang
non cetak alias online. Untuk teknisnya nanti sy kirimkan e-booknya ya
P7 (Lusia ,Curup)
Selamat siang pak Paidi, terimakasih
penjelasannya, apakah rancangan pebelajaran seperti ini bisa untuk SD, sedangkan guru di SD mengajar seluruh mata pelajaran
kecuali Agama dan PJOK. Gagaimana teknik prnyederhanaannya?
Untuk mbak Lusia,
pada prinsipnya Desain pembelajaran itu bisa untuk semua mata pelajarannya, yag
membedakannya terletak pada isi pelajarannya
P8 (Sri indayani Lamongan)
Assalaamu'alaikum
pak paidi...setelah membaca semua materi yg berisi langkah pembuatan design
pembelajaran saya masih belum bisa membayangkan hasil akhirnya. Yg ingin saya tanyakan
bagaimana bentuk hasil design pembelajarannya, apakah menjadi sebuah buku atau
yg lainnya? Bagaimana cara penerapan hasil design pembelajaran tadi ke siswa?
Terima kasih.
Untuk mbak Sri,
kelebihan desain pembelajaran ini adalah akan mengasilkan buku pembelajaran yang
bisa dijamin kebenaranya selagi prosedur dikerjakan dengan benar. Kelebihan
lain juga desain pembelajaran ini akan dilengkapi dengan instrumen pendukungnya
termasuk model pembelajarannya sudah
ditentukan
P9 (Noralia Semarang)
pertanyaan saya:
- Untuk pengembangan bahan ajar seperti yang bapak laksanakan yg menghasilkan produk buku ajar untuk 1 tahun pelajaran, butuh berapa lama pak penelitiannya?
- Apakah tiap bab materi ajar di buku ajar yang dikembangkan harus diujikan di kelas besar atau hanya kita ambil sampel salah satu materi ajar saja?
Untuk mbak Noralia,
1. waktu yang dibutuhkan untuk 1 buku
/tahun sy butuh waktu antara 6 sampai 10 bulan itupun sy sambil nyambi mbak
heeee. Jika focus utk desain buku saja 6 bulan itu insyallah sudah selesai; 2.
Iya betul setiap bab harus diujikan untuk tahap Small group dan Field trial.
P10 (Bu Dede dari SLB AB Kemala Bhayangkari 2 gresik)
Jika mengacu kepada
keterangan terahir yg ttg buku yg d rancang untuk keperluan penerbit, penerbit
sdh mempunyai format sendiri mohon arahan. Berkenaan dengan buku yg akan saya buat subjeknya
ABK. Lalu
untuk uji coba seperti tahapan di atas apa memungkinkan?
Untuk mbak Dede,
Betul mbak, penerbit sudah mempunyai Format tersendiri versi penerbit, si
penulis tinggal
mengikuti outline. Contohny sy mendapatkan amanat dari penerbit erlangga untuk
membuat buku-buku SMK dengan outline sudah ditentukan pihak Erlangga. Mbak Dede
maaf singaktan dari apa ya ABK?
Anak Berkebutuhan Khusus
Ooooo Bisa mbak
Anak Berkebutuhan
Khusus selagi bahan/materi buku masih dalam lingkup di SLB, silahkan dicobakan
menggunakan alus desain sebagaimana tersebut pada slite 7.
P11 (Bu Budi dari Gresik)
Assalammu'alaikum,
Pak, saya
Mau bertanya, Berapakah jumlah halaman
yang dipersyaratkan bila membuat buku ini ?
Tidak ada
persyaratan minimal jumlah halamannya. Yang pasti buku tsb sudah mencakup semua
materi hasil analisis pada langkah 3 dan 5.
Pertanyaan lain bisa kirim ke email : paidi1971@gmail.com.
Gunungkidul, 27 April 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar