Jumat, 10 April 2020

Menulis hari kedua


  

Aku Mulai Bimbang Belajar Menulis


Kamis siang, 9 April 2020 kubuka grup wa angkatan sekolah guru. Ada Informasi pelatihan menulis via online bersama Omjay dkk. Setelah info ku forward ke grup wa di sekolahku, aku segera mendaftarkan diri. Dengan mengirimkan nomor wa dan alamat sekolah kuberanikan diri untuk mendaftar. Mungkin ini saat yang tepat bagi aku mengikuti pelatihan untuk mewujudkan keinginan berlatih menulis.

Sampai malam belum ada tanggapan. Pagi hari bakda salat subuh kubuka wa, “jrrengg” ada tanggapan plus kiriman buku online “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi” dan instruksi untuk membaca-baca dulu buku yang dikirimkan. Aku mulai membuka isi buku. Hanya sepintas kulihat judul-judulnya, menarik. Waow, ……sepertinya keren ini! Namun karena ada hal yang harus aku kerjakan maka kututup buku online dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Siang hari aku buka kembali wa, ternyata ada grup baru, “Belajar Menulis gel 8” baru saja admin masukkan nomorku di grup tersebut. Kupikir pembelajaran menulis daring baru akan dimulai. Namun beberapa saat kemudian, ratusan chat muncul. Aku mulai menyimak. Ternyata tadi malam materi ke-7 sudah diberikan. Kuikuti terus ….terus…. dan aku merasa tidak tepat mengikuti pembelajaran seperti ini. Ibarat orang makan, baru beberapa suap aku merasa mual, pengin muntah, pening rasanya kepalaku. Dari grup ini kukatahui teman-teman sudah mahir menulis. Mereka menulis sudah menggunakan blog. Sementara aku, sama sekali belum pernah menulis. Aku belum bisa membuat blog.

Keraguan mulai menghantui pikiranku. Kulanjutkan atau berhenti di sini. Buat apa susah-susah mengikuti pelatihan ini, pikirku. Akhirnya kuputuskan untuk menyimak saja. Di tengah kebimbnganaku untuk lanjut atau berhenti, aku ingat buku yang dikirim admin, dan ternyata baru kuketahui yang mengirim buku ini adalah Omjay. Semoga aku tidak salah, he he he ….. Aku mulai membukaa-buka isi buku Omjay “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”.  Baru membaca judulnya saja aku kembali tertarik untuk menulis. Beberapa judul mulai bukaca. Betul sekali isinya rileks, menceritakan pengalamannya sendiri, dan lebih banyak memitovasi. Beberapa kata sempat menggelitik pikiranku diantanya bahasanya renyah, ibarat makanan gurih dan enak dicerna.
Semangat untuk belajar menulis kembali muncul. Kuambil laptop dan kumulai mengetik. Kata-demi kata mengalr begitu saja. Tidak kupedulikan apakah ada inti atau pesan yang kusampaikan lewat tulisanku ini atau tidak. Masa bodoh! begitu pikirku. Pokoknya aku harus menulis saja. Jari jemariku mulai lincah menekan tombol keybord lapotopku. Sesekali aku berhenti karena kehabisan kata-kata. Aku tak pedulikan diksi. Aku tak pedulikan koherensi kalimat, aku tak pedulikan koherensi paragaf. Tak kupedulikan semuanya. Aku ingat pesan Omjay dalam bukunya, “Jadilah penulis terkenal dengan membiasakan diri menulis setiap hari.. Menulis apa saja yang ada dalam alam pikirannya saat itu dan membuat tulisannya penuh makna agar enak dibaca.”

Setelah selesai menulis di hari kedua ini, kuambil hp kuberanikan diri mengirim pesan singkat kepada Omjay.



 Sampai di sini, aku berhenti lagi. Percaya diri, kata-kata ini sangat mudah diucapkan dan terasa sangat sulit kubuktikan. Aku bahkan sering menggunakan kata-kata tersebut untuk memotivasi teman-teman guru dan juga anak-anak didikku ketika mau lomba. “Yang penting percaya diri, jangan hiraukan orang lain. Anggap orang lain tidak ada. Begitu biasanya aku menggunakan istilah percaya diri.”




2 komentar:

Portofolio Digital

Selamat datang di Portofolio Digital saya Saya,  Eni Indarwati, M.Pd.  Pengawas Sekolah Dasar di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Blo...