BELAJAR MENULIS OPINI
Oleh Eni Indarwati
Ala bisa karena biasa
Biodata Narasumber
Asep
Sapa’at adalah Pendidik dan Pemerhati Karakter Guru. Latar belakang pendidikan
Sarjana Bidang Pendidikan Matematika UPI.
Aktifitas:
Pembicara dan Trainer pada Character Building Indonesia, Sekolah Guru
Indonesia, Mentor Sahabat Muda, Aktif di komunitas online Learn Community for
Teacher Profesional Development, Edith Cowan University perth-Australia, Libang
di klinik Pendidikan MIPA (KPM) dan GM Pendidikan Dompet Duafa.
Karyanya:
“Stop
Menjadi GuruJika Tidak …, Setia Mengabdi Meski Kelas Beratapkan Langit, Peluh
Penawar Rindumu Indonesia, Beta Guru Sudah Aktif Menulis di Rubrik Hikmah
Republika, Republika online, Opini Republika, Berita Satu Online, Jurnal
Pendidikan Dompet Duafa, Majalah 1000 Guru, Lampung Post, Harian Singgalang,
Radar Bogor, Tribun Sumsel.
“Asep
Sapa'at, tubuh sehat, jiwa kuat, cita-cita ingin jadi orang bermanfaat.” Begitu
kalimat pembuka sang narasumber hebat kali ini.
Dengan
semangat untuk saling belajar, beliau ingin sharing tentang pengalaman menulis
di rubrik opini dan hikmah Republika. Pertama, disampaikan penjelasan tentang
mengikat makna. Istilah mengikat makna dipopulerkan oleh almarhum Hernowo. Segala
hal yang berkaitan dengan aktivitas menulis sebagai cara untuk memaknai hal-hal
yang bisa kita lihat, dengar, rasakan, renungi.
Setiap
orang memiliki hambatan menulis yang berbeda-beda. Ada hambatan yang disebabkan
kesulitan mengalirkan gagasan, ada juga karena faktor mood, ada pula yang
disebabkan karena faktor penguasaan bahasa serta keterampilan menulis. Namun
hakikatnya, setiap diri kita bisa menulis jika konsisten mau belajar. Hal yang
paling mudah ditulis adalah sesuatu yang dekat dengan diri kita.
Sebelum
dapat mempublikasikan tulisan di media masa, Asep Sapa’at belajar menulis di
buku harian. Menulis di buku harian adalah cara ampuh untuk membangun
kepercayaan diri untuk menuangkan gagasan.
Menurut
Mas Bambang Trimansyah, sifat tulisan terbagi ke dalam 4 sifat, yaitu:
- Pribadi tertutup, yakni tulisan bersifat sangat pribadi dan cenderung dirahasiakan agar tidak dibaca atau terbaca oleh orang lain. Tulisan ini biasanya berupa diari, surat-surat pribadi, ataupun catatan-catatan rahasia.
- Pribadi terbuka, yakni tulisan bersifat pribadi ataupun sangat pribadi, tetapi dibiarkan ataupun disengaja untuk dibaca orang lain. Tulisan semacam ini muncul akibat perkembangan teknologi informasi, terutama di dunia internet. Tulisan-tulisan di blog, situs, ataupun media sosial cenderung banyak yang bersifat pribadi, subjektif, dan kadang malah dibuat sesuka hati.
- Publik terbatas, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak, tetapi dalam lingkup terbatas, misalnya lingkup komunitas, lingkup keagamaan, ataupun lingkup sesama teman yang saling kenal.
- Publik terbuka, yakni tulisan yang ditujukan untuk konsumsi orang banyak secara terbuka dan luas meskipun menyasar pada segmen pembaca tertentu. Tulisan ini bebas dibaca siapa pun yang berminat.
Sifat
menentukan untuk siapa tulisan Anda tujukan. Pada sifat pertama Bapak Ibu
menulis, tetapi hanya Bapak Ibu sendiri yang membacanya. Sifat 2, 3, dan 4
adalah tulisan yang ditujukan untuk publik sehingga Anda perlu menimbang tujuan
penulisan dan pembaca sasaran.
Nah
menurut Bapak Ibu, menulis di media masa termasuk sifat tulisan yang mana?
Opini
merupakan jenis tulisan nonfiksi, ranah jurnalistik, dan sifat tulisannya
publik terbuka. Sebelum bicara lebih teknis untuk membuat tulisan, ada beberapa
hal penting yang harus diperhatikan agar tulisan kita memiliki ruh atau
jiwanya.
Menurut
Mas Fauzil Adhim, ada 6 aspek yang harus dikembangkan agar tulisan kita
memiliki jiwa.Tulisan akan memiliki jiwa saat penulis 1) memiliki visi hidup (cita-cita dan harapan), 2) melibatkan emosi saat menulis,
3) luas wawasannya (banyak membaca, berdiskusi, jalan-jalan), 4) berbagi
pengalaman hidup nyata yang pernah dialami, 5) menggunakan nalar atau logika yang tepat, dan 6) tulisan sebagai hasil perenungan yang mendalam tentang apapun yang
akan ditulis.
Menggagas artinya berpikir dan merencanakan. Hal ini
dapat dilakukan dengan:
- Mengumpulkan bahan referensi
- Menentuian pembaca sasaran
- Mengembangkan ide menjadi kerangka
Menyusun
draf. Dalam menyusun draff
tulisan meliputi:
- Menulis
bebas
- Memasukkan bahan yang relevan dengan pengalaman diri, pengalaman orang lain, latar belakang ilmu dan pengetahuan yang dimiliki
- Memasukkan data dan fakta
- Mengembangkan gaya penulisan yang tepat sesuai pembaca sasaran
Menyunting dimaksudkan untuk memastikan tidak ada kesalahan. Dalam
menyunting kegiatan yang dilakukan adalah Memperbaiki tulisan dari aspek tata
bahasa, ketelitian data dan fakta, kesantunan. Tak boleh ada kesalahan
elementer.
Menerbitkan.
Untuk
menerbitkantulisan kita, harus dilakukan adalah menentukan publikasi tulisan
pada media yang tepat serta pembaca yang tepat. Kita dapat memilih media daring
atau media cetak.
Di
luar teknis menulis yang disampaikan di atas, faktor nonteknis seperti disiplin
menulis, tak pantang menyerah mengirimkan tulisan ke media meski sering ditolak
dan tak dimuat, juga tak berhenti belajar meningkatkan keterampilan menulis.
Narasumber
berbagi sedikit pengalaman bahwa jauh sebelum tulisannya dimuat di rubrik opini
dan Hikmah Republika, sejak tahun 2007 beliau konsisten menulis di Republika
Online. Nah ini jadi faktor nonteknis, punya jalinan silaturahim dengan para
redaktur di media masa. Kita mendapatkan informasi dan masukan dari para
redaktur agar kualitas tulisan lebih baik dan potensial dimuat di media cetak.
Izin
saya bagikan beberapa tulisan saya yang dimuat di rubrik opini dan hikmah
Republika, Bapak dan Ibu guru hebat.
NARASUMBER MENJAWAB
Bagaimana
menyiasati agar waktu menulis dan tema kita sesuai dg waktu kirim/moment yg
tepat? Kita harus sensitif dengan
momentum yg akan terjadi, misal, 6 hari lagi merupakan momen Hari Kebangkitan
Nasional. Nah, dari sekarang sudah mulai menyiapkan bahan belanja gagasan,
tentukan ide yang akan ditulis, dan tuliskan dan kirimkan tulisannya paling
lambat sehari sebelum tanggal 20 Mei.
Bagaimana
menyiasati ketidakpercayaan diri atas tulisan yang sudah kita tulis? Coba konsisten menulis dulu di buku harian
atau personal blog yang bersifat pribadi. Nanti jika sudah mulai percaya diri,
publikasikan tulisan kita. Jangan takut mendapat kritikan dan masukan dari
pembaca terhadap tulisan kita. Karena justru hal tersebut bisa menjadi cermin
untuk kita terus meningkatkan kualitas tulisan.
Bagaimana
mengasah emosi dalam kepenulisan sehingga tulisan kita bisa berkualitas? Tuliskan sesuatu yang benar-benar pernah
dialami oleh diri sendiri. Saya pernah membuat tulisan di rubrik Hikmah
Republika saat istri saya wafat. Wah susah memulai kata pertama dan menutup
kata terakhir karena saya ada rasa yang hadir menemani saat membuat tulisan.
Apa
saja yg menyebabkan tulisan sering di tolak media masa dan bagaimana cara
menulis yang bisa diterima media masa? Tulisan
yang pasti ditolak media adalah yang tidak mengikuti kaidah yang sudah
ditetapkan media. Misal, kita menulis sesuatu yang bersifat SARA, gagasan
terlalu umum, batas maksimal karakter tak diindahkan oleh kita.
Saya
mau bertanya bagaimana ciri artikel yang menarik untuk diterbitkan. Syarat paling utama adalah ide orisinal dan
menarik, data dan fakta yang disajikan sahih, tata bahasa baik, dan sesuai
dengan kriteria dari redaktur media cetak.
Apakah
ada kriteria pembeda antar media cetak untuk bisa menerbitkan suatu tulisan Bapak?
Setiap media cetak punya kebijakan
sendiri terkait standar tulisan yang akan mereka terima. Misal, tulisan Hikmah
Republika tak ada di media cetak lain. Rubrik Hikmah khas punya Republika.
Jadi, kita harus pelajari secara cermat rubrik-rubrik yang ada di setiap media
cetak agar kita bisa tepat memilih media mana untuk menerbitkam tulisan kita.
Terbiasa
menulis fiksi, ktika mncoba non fiksi kesulitan bagaimana solusinya? Saran saya, mulai pelajari
tulisan-tulisan opini yang dimuat di media, lalu coba buat tulisan bergenre
nonfiksi. Ala bisa karena biasa. Hal paling penting dalam tulisan
opini (nonfiksi) adalah tata bahasa baku dan pemilihan diksi yang bermakna
lugas.
Bagaimana
caranya supaya ide yang sudah kita miliki menjadi sebuah judul yang menarik
untuk dibuat suatu tulisan, karena kadang terlintas ide tetapi susah sekali
mencarikan judul yang tepatnya untuk ide tersebut. Ada beberapa pendekatan saat menulis. Ada yang langsung menetapkan
judul, lalu membuat tulisan. Tetapi ada juga yang sebaliknya, buat tulisan dulu
untuk menguraikan idenya, judul bagian terakhir. Saran saya, menulis dulu,
nanti judul diputuskan terakhir. Boleh minta pendapat ke guru menulis atau
rekan sejawat terkait pilihan judul dari tulisan yang sudah dibuat.
Bagaimana
Cara kita mengatasi hambatan yang disebabkan oleh kesulitan dalam mengalirkan gagasan.
Hambatan paling mendasar kita sulit
mengalirkan gagasan karena gagasan yang mau diungkapkan belum jelas. Persoalan
lainnya, kita kekurangan bahan untuk menunjang penyelesaian tulisan kita. Hal
lain yang juga kerap terjadi, saat menulis, kita menempatkan diri dalam 2 peran
sekaligus sebagai penulis juga editor. Saat menulis, lalu diedit, kita
berhenti. Balik lagi ke awal. Terus terjadi seperti itu. Alhasil gagasan kita
lewat tulisan tak selesai-selesai. Itu pengalaman pribadi dan masih juga
terjadi pada diri saya.
Apakah
artikel-artikel yang saya buat dapat diberikan angka kredit dalam penyusunan
DUPAK ke IV.b ? Sejauh pemahaman awam
saya, tulisan yang dimuat di media masa, makalah yang dimuat dan
dipresentasikan di seminar nasional atau internasional, dan makalah yang dimuat
di jurnal terakreditasi nasional bisa menyumbangkan angka kredit yang
bermanfaat untuk kenaikan pangkat. Saya punya dosen pembimbing yang sangat
produktif berkarya tulis, sekali menulis 2 judul makalah untuk satu event
seminar nasional. Kalau semua karya tulis didokumentasikan dengan baik, belajar
dari kiprah dosen pembimbing saya, beliau naik pangkatnya cepat sekali. Kata
kuncinya: konsisten berkarya tulis. Naik pangkat itu bonusnya.
Gunungkidul,
15 Mei 2020




Mantul
BalasHapusTerimakasih
BalasHapus