MENULIS SETIAP HARI DAN TERBITKAN BUKU
Oleh Eni Indarwati
Narasumber pada pertemuan ke-24 ini adalah Bapak Dadang
Kadarusman.
Sebelum sampai pada materi, beliau menceritakan masa kecilnya. Dadang Kadarusman kecil, suka sekali membaca buku. Ayahnya yang seorang guru SD seringkali membawakan buku-buku bacaan dari sekolah. Berawal dari sanalah Dadang menyukai membaca dan mulai timbul keinginan untuk menulis. Kesukaanya menulis sejak dari kecil hingga sekarang. Beliau bersyukur kepada Tuhan sampai saat ini bisa menulis setiap hari.
Sebelum sampai pada materi, beliau menceritakan masa kecilnya. Dadang Kadarusman kecil, suka sekali membaca buku. Ayahnya yang seorang guru SD seringkali membawakan buku-buku bacaan dari sekolah. Berawal dari sanalah Dadang menyukai membaca dan mulai timbul keinginan untuk menulis. Kesukaanya menulis sejak dari kecil hingga sekarang. Beliau bersyukur kepada Tuhan sampai saat ini bisa menulis setiap hari.
Untuk mengenal lebih dekat dengan sosok penulis ini, kita dipersilakan mengunjungi website www.dadangkadarusman.com.
Belajar dari proses pengalaman menulis
Materi kuliah
online disampaikan dengan kombinasi pesan suara dengan topik “MENULIS
SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU “. Menurut Pak Dadang ada yang
perlu diperbaiki oleh kita semua yang hadir dalam kuliah online ini yaitu cara
menerbitkan buku atau ada satu aspek yang perlu diperbaiki pada orang yang
ingin mempunyai hasil karya berupa buku. Berdasar pengalaman Pak Dadang bahwa
menerbitkan buku itu sangat mudah. Berbeda dengan 20 tahun lalu ketika beliau
pertama kali ingin menerbitkan buku.
Buku ditolak oleh penerbit, dan hal sudah sering dialami sehingga
menjadi sesuatu hal yang biasa.
Tantangan terbesar bagi seorang penulis
Tantangan terbesar bagi seorang penulis, apalagi pemula bukan pada menerbitkan bukunya, melainkan
pada rutinitas menulis setiap hari.
Jika kita dapat menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik dimana
kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Sebagai seorang
penulis kita tidak perlu mendatangi penerbit lagi, tetapi
penerbitlah yang akan datang kepada kita. Buku-buku beliau
kebanyakan adalah hasil dari penerbit datang dan menawarkan untuk
menerbitkan naskahnya. Nantinya tinggal kita sebagai penulis mau
menerbitkannya atau tidak.
Mungkin bapak Ibu bertanya, kenapa kita perlu menulis setiap
hari? Seperti kata pepatah “Alah Bisa, Karena Biasa.” Jadi, orang yang terbiasa
melakukan sesuatu akan mahir dalam melakukannya. Contoh, Ibu dan bapak guru kan suka menasihati anak didiknya agar
membiasakan diri untuk melakukan sesuatu. Tujuannya apa? Untuk membuat anak
didik itu mahir melakukannya. Demikian pula halnya dengan menulis. Jika kita
melakukannya setiap hari, maka kita akan menjadi mahir menulis.
Contoh lain. Bapak Ibu ini kan jago banget kalau bicara didepan
kelas. Banyak pula professor di kampus yang hebat dalam memberi kuliah. Tapi,
ketika diminta untuk membuat sebuah karya tulis; jadi gelagapan. Padahal
temanya adalah bidang yang dikuasainya dan biasa diajarkan kepada anak
didiknya. Kenapa nggak bisa? Karena, para guru terbiasa bicara. SETIAP HARI
BICARA. Namun, tidak terbiasa MENULIS. Makanya, kita perlu SETIAP HARI MENULIS.
Agar kelak kita jadi terampil menuangkan gagasan bukan hanya melalui lisan
saja. Melainkan juga dalam bentuk tulisan.
Pembahasan
berikutnya difokuskan kepada cara menulis setiap hari. Yang harus
dipahami bahwa, jangan lagi berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah. Karena
menerbitkan buku itu ternyata mudah sekali atau gampang banget. Kita harus percaya bahwa, penerbit akan mendatangi
kita jika skill menulis kita sudah
sesuai dengan yang mereka cari.
Hal penting agar seseorang dapat menulis setiap hari, yaitu;
1. WHY (Mengapa/kenapa)
Mengapa/kenapa kita perlu menulis setiap
hari. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara
otot-otot tubuh kita, juga jiwa dan itu terjadi secara refleks saja. Jadi,
nanti kalau kita sudah terbiasa menulis, melihat apapun, selalu ingin
menerjemahkan apa yang kita lihat itu ke dalam bentuk tulisan. Begitu pula
ketika kita merasakan sesuatu. Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja
memendam perasaan itu. Atau butuh seseorang yang mau mendengarnya. Padahal,
belum tentu ada yang mau mendengarkan, bukan? Maka yang mau dan bersedia dengan
setia mendengarkan kita yaitu selembar kertas dengan pena kalau jaman dulu.
Dan jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk
mencurahkan perasaannya. Kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka
kita bisa mencurahkannya disana. Menulis setiap hari itu merupakan healing
remedy.
Kesimpulannya, kenapa perlu menulis
setiap hari adalah karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang
meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Jadi, jika terbiasa
menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat. Dan orang yang memiliki
pribadi yang lebih sehat yaitu orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan
sendiri naskahnya secara mandiri.
Bagimana kemampuan
menulis itu diasah? Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam
hidup kita tanpa menulis.
Jika Anda sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai sekarang,
berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. Minimal tulisan yang dihasilkan
adalah 1 hari 1 artikel. Jumlah kata dalam artikel, tidak ditentukan. Berbeda
dengan zaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, ada ketentuan
jumlah kata. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan. Kenapa? Karena bukan hal
yang mudah untuk menuangkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan.
Maka bagi penulis pemula sebaiknya menggunakan ukuran 1 hari 1artikel .
Artikel itu apa? Artikel yaitu sebuah
paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang
lain. Dan ukuran dari artikel tidak ditentukan jumlah katanya. Yang penting
dalam 1 hari itu ada karya tulis kita yang kalau dibaca orang lain, mereka akan memahaminya. Mengapa ada
kata “kalau?” karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel kita. Tapi
walau tidak ada, atau belum ada orang yang membaca artikel kita, tidak usah
kita berkecil hati. Tidak usah patah semangat. Jangan putus asa. Jangan
bersedih. Kenapa? Karena kalau orang lain membaca pun belum tentu feedbacknya positif bagi kita.
Yang penting menulis saja dulu. Tidak sedikit orang yang berhenti menulis
karena pembacanya memberi feedback negatif.
2. WHAT (Apa)
Kalau tulisannya sudah memenuhi
standar minimal untuk dibaca orang, yakinlah pasti akan dibaca oleh orang lain.WHAT makes
you write something? “Apa yang mendorong Anda untuk menulis?”
Pertanyaan ini sederhana. Jadi mari kita tanyakan kepada diri sendiri dulu, apa
yang mendorong kita menulis. Dengan kata lain, apa tujuan kita menulis. Kalau
kita tidak tahu tujuan kita menulis dan tidak menemukan jawaban yang tepat maka
proses menulis akan berhenti di tengah jalan. Tujuan orang menulis itu
bermacam-macam. Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang. Bahkan menurut
pengalamannya, dulu beliau pernah berada di level tersebut. Jika
tujuan menulis semata-mata karena ingin mendapatkan honor penulisan/uang/royalty
saja, maka akan lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Dulu, Pak Dadang menulis
dengan tujuan untuk mendapatkan uang, karena butuh untuk biaya
sekolah. Namun ternyata lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada
diterbitkan.
Tujuan menulis
Menulis mempunyai beberapa tujuan
yaitu
1) Ingin
mendapatkan uang.
Menulis dengan tujuan mencari uang buukanlah nilai pribadi
yang ingin dicari. Dan sampai sekarang, prinsip hidup beliau bahwa
menulis bukan untuk
uang semata. Namun boleh-boleh saja menjadikan uang sebagai pendorong
utama dalam menulis. Ketika menulis karena uang semata, kadang mendapatkan
kekecewaan karena penerbit menolak. Seperti merasa diremehkan oleh penerbit.
Kita juga bisa kecewa jika bayarannya ternyata tidak seperti yang kita
harapkan. Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa
sebenarnya dorongan yang paling cocok buat kita untuk menekuni dunia tulis
menulis tersebut.
2) Ingin
Berbagi Pengetahuan.
Tujuan yang kedua ini yang paling sesuai dengan
jiwa seorang pendidik. Jadi menulislah, jangan semata-mata
untuk mendapatkan uang/honor tapi tanamkan motivasi yang lebih dalam, lebih
bermakna yaitu ingin berbagi ilmu pengetahuan, ingin berbagi informasi, karena
menurut ajaran agama bahwa pahala yang tak akan pernah putus pahalanya,
sekalipun kita sudah tiada adalah ilmu yang bermanfaat yang disedekahkan, ditularkan,
diajarkan, dan diberikan kepada orang lain.
Dari mana sumber ide itu datang?
Jika kita menulis setiap hari , idenya datang
dari mana? Dan hal tersebut menjadi pertanyaan banyak orang. Namun
jawabnya sederhana, yaitu bahwa segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra
kita adalah sebagai sumber ide. Tinggal kita mengolahnya saja. Yang terpenting
adalah bagaimana kita mengolah berapa banyaknya rangsangan yang masuk ke dalam
sistem panca indra dan indra ke enam kita. Itu adalah prinsip dalam
menulis dan yang harus selalu kita pegang teguh dalam kehidupan seorang
penulis. Rangsangan yang masuk ke dalam panca indera dan indera keenam kita
jumlahnya tak terhingga. Maka
itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa sangat banyak.
Contoh sepele sumber ide yang dapat kita tangkap dengan panca indra
misalnya ada bunyi AC, itu juga merupakan sumber ide. Ada suara seseorang yang
lewat didepan rumah. itu sumber ide. Ada bunyi “praaaang!” gara-gara panci
jatuh, itu juga semua sumber ide. Dan ide itu, hanya butuh sentuhan
berupa mengolah pikiran yang
kemudian menuangkan hasil olah
pikir itu ke dalam
tulisan.
Rangsangan terhadap panca indera itu selalu ada setiap
hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari. Setiap saat ada ide
disanalah sumber tulisan kita.
NARASUMBER MENJAWAB
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari para peserta saya
rangkum sebagi berikut:
Pak Dadang
menjelaskan bahwa pengalaman menulisnya dimulai sejak SD, aktif sekali SMP
sampai ikut lomba-lomba. Berarti sampai saat ini sudah sekitar 40 tahun
menulis. Kemudian mulai dipercaya oleh penerbit, sekitar 10 tahun
lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Tapi kondisi dulu beda
dengan sekarang. Dulu, penerbit hanya sedikit. Dan mereka punya bargaining power yang sangat
tinggi. Maka mereka sulit ditembus. Sekarang, ada sangat banyak penerbit.
Bahkan menerbitkan sendiri pun bisa. Sehingga sekarang kalau ingin menerbitkan
buku tidak butuh waktu lama untuk dipercaya penerbit.
Kalau kita masih
pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit.
Karena kita yang masih pemula butuh penerbit. Strateginya yang paling gampang
adalah terus ikut kursus menulis seperti ini, lalu membuat naskah sambil
konsultasi terus dengan penyelanggara.
Jadi intinya fokus
dulu kepada proses mengasah skill menulisnya saja. Lalu
biarkan hasil karya kita berseliweran di ruang publik. Nanti, bakal jadi
seperti lampu yang akan menarik perhatian para laron, yang
mendatangi lampu tersebut, sedikit sedikit, akhirnya berdatangan pembaca
menyukai tulisan atau buku kita.
Menulis itu harus
dipaksakan setiap hari . Karena, “paksaan” adalah sebuah
proses yang efektif untuk mendisiplinkan seorang pembelajar yang belum
memiliki refleks menulis sendiri.
Beliau, sejak SD menulis tetapi menulis setiap harinya harus
setelah bekerja. Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa.
Mengenai tema dan sistematika penulisan tidak usah terlalu dipikirkan jika
dalam tahap belajar atau penulis pemula. Yang penting dan pokoknya adalah
menulis saja. Tidak usah takut salah. Bagi pembelajar, yang terpenting adalah;
kemauan untuk terus praktek menulis, dan bersedia mendengar masukan dari orang
lain untuk perbaikan tulisan kita.
Jika ada orang bilang memulai itu sulit sekali, tetapi kita sebagai penulis harus bilang “Mulai Saja Cari Sebuah Kata” yang terlintas dalam pikiran atau benak kita. Insya Allah, nanti akan mengalir dengan sendirinya. Dan selalu minta petunjuk kepada Tuhan agar kita selalu dibimbing-Nya sehingga diberi kelancaran dalam menulis, menuangkan ide-ide dan gagasan kita. Kita harus menerima diri sendiri sebagai orang yang baru belajar. Jadi, kalau pun tulisan kita 'tidak laku' ya nggak apa-apa karena baru belajar. Latihan terus dan membuat tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarlah menjadi koleksi pribadi kita dan kita sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' diberitahukan kepada orang lain, maka tunjukkan kalau kita bisa menulis, dan pilihlah orang yang tidak akan bersikap negatif terhadap tulisan kita.
Banyak orang tidak percaya diri saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Namun pasti ada minimal seseorang yang sedang menanti buah pikiranmu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman. Maka menulislah. Kemudian di dalam menulis sebuah buku tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan. Bisa kedua-duanya, yang penting tulisan kita jadi.
Untuk menjaga
keistiqomahan atau keteguhan dalam menulis setiap hari, kita
harus mempunyai alasan yang lebih tinggi , lebih mulia dan lebih
bernilai , itu akan meneguhkan niat kita untuk menulis. Sekarang menulislah semata-mata
karena kita menginginkan agar Allah mengajari kita tentang sesuatu. Dan jika
Allah telah mengajarkan sesuatu untuk kita, maka kita akan mengajarkannya untuk
orang lain dan akan kita bagikan kepada
orang lain.
Menulislah setiap
hari sebuah artikel daripada pikiran kita sibuk memikirkan untuk menerbitkan
buku. Karena dengan menulis setiap hari maka gagasan kita akan lebih
cepat sampai kepada orang lain.
Gunungkidul,
4 Mei 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar