Jumat, 08 Mei 2020

MENULIS SETIAP HARI DAN TERBITKAN BUKU


MENULIS SETIAP HARI DAN TERBITKAN  BUKU

Oleh Eni Indarwati


Narasumber pada pertemuan ke-24 ini adalah Bapak Dadang Kadarusman.
Sebelum sampai pada materi, beliau menceritakan masa kecilnya. Dadang Kadarusman kecil, suka sekali membaca buku. Ayahnya yang seorang guru SD seringkali membawakan buku-buku bacaan dari sekolah.   Berawal dari sanalah Dadang menyukai membaca dan mulai timbul keinginan untuk menulis. Kesukaanya menulis sejak dari kecil hingga sekarang. Beliau bersyukur kepada Tuhan sampai saat ini bisa menulis setiap hari.  

Untuk mengenal lebih dekat dengan sosok penulis ini, kita dipersilakan  mengunjungi website 
www.dadangkadarusman.com.

Belajar dari proses pengalaman menulis
Materi kuliah online disampaikan dengan kombinasi pesan suara dengan topik “MENULIS SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU “. Menurut Pak Dadang ada yang perlu diperbaiki oleh kita semua yang hadir dalam kuliah online ini yaitu cara menerbitkan buku atau ada satu aspek yang perlu diperbaiki pada orang yang ingin mempunyai hasil karya berupa buku. Berdasar pengalaman Pak Dadang bahwa menerbitkan buku itu sangat mudah. Berbeda dengan 20 tahun lalu ketika beliau pertama kali ingin menerbitkan buku.  Buku ditolak oleh penerbit, dan hal sudah sering dialami sehingga menjadi sesuatu hal yang biasa.
Tantangan terbesar bagi seorang penulis
Tantangan terbesar bagi seorang penulis, apalagi pemula bukan pada menerbitkan bukunya, melainkan pada rutinitas menulis setiap hari. Jika kita dapat menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik dimana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Sebagai seorang penulis kita tidak perlu mendatangi penerbit lagi, tetapi penerbitlah  yang akan datang kepada kita. Buku-buku beliau kebanyakan  adalah hasil dari penerbit datang dan menawarkan untuk menerbitkan naskahnya. Nantinya tinggal kita sebagai penulis  mau menerbitkannya atau tidak.

Mungkin bapak Ibu bertanya, kenapa kita perlu menulis setiap hari? Seperti kata pepatah “Alah Bisa, Karena Biasa.” Jadi, orang yang terbiasa melakukan sesuatu akan mahir dalam melakukannya. Contoh, Ibu dan bapak guru kan suka menasihati anak didiknya agar membiasakan diri untuk melakukan sesuatu. Tujuannya apa? Untuk membuat anak didik itu mahir melakukannya. Demikian pula halnya dengan menulis. Jika kita melakukannya setiap hari, maka kita akan menjadi mahir menulis.

Contoh lain. Bapak Ibu ini kan jago banget kalau bicara didepan kelas. Banyak pula professor di kampus yang hebat dalam memberi kuliah. Tapi, ketika diminta untuk membuat sebuah karya tulis; jadi gelagapan. Padahal temanya adalah bidang yang dikuasainya dan biasa diajarkan kepada anak didiknya. Kenapa nggak bisa? Karena, para guru terbiasa bicara. SETIAP HARI BICARA. Namun, tidak terbiasa MENULIS. Makanya, kita perlu SETIAP HARI MENULIS. Agar kelak kita jadi terampil menuangkan gagasan bukan hanya melalui lisan saja. Melainkan juga dalam bentuk tulisan.

Pembahasan berikutnya  difokuskan kepada cara menulis setiap hari. Yang harus dipahami bahwa, jangan lagi berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah. Karena menerbitkan buku itu ternyata mudah sekali atau gampang banget. Kita harus percaya bahwa, penerbit akan mendatangi kita  jika skill menulis kita  sudah sesuai dengan yang mereka cari.
Hal penting agar seseorang dapat menulis setiap hari, yaitu;
1. WHY (Mengapa/kenapa) 
Mengapa/kenapa kita perlu menulis setiap hari. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa dan itu terjadi secara refleks saja. Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis, melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu ke dalam bentuk tulisan. Begitu pula ketika kita merasakan sesuatu. Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu. Atau butuh seseorang yang mau mendengarnya. Padahal, belum tentu ada yang mau mendengarkan, bukan? Maka yang mau dan bersedia dengan setia mendengarkan kita yaitu selembar kertas dengan pena kalau jaman dulu. Dan  jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya. Kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya disana. Menulis setiap hari itu merupakan healing remedy.
Kesimpulannya, kenapa perlu menulis setiap hari adalah karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat. Dan orang yang memiliki pribadi yang lebih sehat yaitu orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri.

Bagimana kemampuan menulis itu diasah? Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita tanpa menulis. Jika Anda sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai sekarang, berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. Minimal tulisan yang dihasilkan adalah 1 hari 1 artikel. Jumlah kata dalam artikel, tidak ditentukan. Berbeda dengan zaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, ada ketentuan jumlah kata. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan. Kenapa? Karena bukan hal yang mudah untuk menuangkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan. Maka bagi penulis pemula sebaiknya menggunakan ukuran 1 hari 1artikel .
Artikel itu apa? Artikel yaitu sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Dan ukuran dari artikel tidak ditentukan jumlah katanya. Yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis kita yang kalau dibaca orang lain, mereka akan memahaminya. Mengapa ada kata “kalau?” karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel kita. Tapi walau tidak ada, atau belum ada orang yang membaca artikel kita, tidak usah kita berkecil hati. Tidak usah patah semangat. Jangan putus asa. Jangan bersedih. Kenapa? Karena kalau orang lain membaca pun belum tentu feedbacknya positif bagi kita. Yang penting menulis saja dulu. Tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negatif.

2. WHAT (Apa)
Kalau tulisannya sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang, yakinlah pasti akan dibaca oleh orang lain.WHAT makes you write something? “Apa yang mendorong Anda untuk menulis?” Pertanyaan ini sederhana. Jadi mari kita tanyakan kepada diri sendiri dulu, apa yang mendorong kita menulis. Dengan kata lain, apa tujuan kita menulis. Kalau kita tidak tahu tujuan kita menulis dan tidak menemukan jawaban yang tepat maka proses menulis akan berhenti di tengah jalan. Tujuan orang menulis itu bermacam-macam. Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang. Bahkan menurut pengalamannya, dulu beliau  pernah berada di level tersebut. Jika tujuan menulis semata-mata karena ingin mendapatkan honor penulisan/uang/royalty saja, maka akan lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Dulu, Pak Dadang menulis dengan tujuan untuk mendapatkan uang, karena  butuh untuk biaya sekolah. Namun ternyata lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan.

Tujuan menulis
Menulis mempunyai beberapa tujuan yaitu
1)    Ingin mendapatkan uang.
Menulis dengan tujuan mencari uang buukanlah nilai pribadi yang ingin dicari. Dan sampai sekarang, prinsip hidup beliau bahwa menulis bukan untuk uang semata.  Namun boleh-boleh saja menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis. Ketika menulis karena uang semata, kadang mendapatkan kekecewaan karena penerbit menolak. Seperti merasa diremehkan oleh penerbit. Kita juga bisa kecewa jika bayarannya ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa sebenarnya dorongan yang paling cocok buat kita untuk menekuni dunia tulis menulis tersebut.
2)   Ingin Berbagi Pengetahuan.
Tujuan yang kedua ini yang paling sesuai dengan jiwa  seorang pendidik. Jadi menulislah,  jangan semata-mata untuk mendapatkan uang/honor tapi tanamkan motivasi yang lebih dalam, lebih bermakna yaitu ingin berbagi ilmu pengetahuan, ingin berbagi informasi, karena menurut ajaran agama bahwa pahala yang tak akan pernah putus pahalanya, sekalipun kita sudah tiada adalah ilmu yang bermanfaat yang disedekahkan, ditularkan, diajarkan, dan diberikan kepada orang lain.
Dari mana sumber ide itu datang?
Jika  kita menulis setiap hari , idenya datang dari mana? Dan hal tersebut  menjadi pertanyaan banyak orang. Namun jawabnya sederhana, yaitu bahwa segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sebagai sumber ide. Tinggal kita mengolahnya saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengolah berapa banyaknya rangsangan yang masuk ke dalam sistem panca indra dan indra ke enam  kita. Itu adalah prinsip dalam menulis dan yang harus selalu kita pegang teguh dalam kehidupan seorang penulis. Rangsangan yang masuk ke dalam panca indera dan indera keenam kita jumlahnya tak terhingga. Maka itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa sangat banyak. Contoh sepele sumber ide yang dapat kita  tangkap dengan panca indra misalnya ada bunyi AC, itu juga merupakan sumber ide. Ada suara seseorang yang lewat didepan rumah. itu sumber ide. Ada bunyi “praaaang!” gara-gara panci jatuh, itu juga  semua sumber ide. Dan ide itu, hanya butuh sentuhan berupa mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu ke dalam tulisan.
Rangsangan terhadap panca indera itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari. Setiap saat ada ide disanalah sumber tulisan kita.
         

      NARASUMBER MENJAWAB


Jawaban atas  pertanyaan-pertanyaan dari para peserta saya rangkum sebagi berikut:
Pak Dadang menjelaskan bahwa pengalaman menulisnya dimulai sejak SD, aktif sekali SMP sampai ikut lomba-lomba. Berarti sampai saat ini sudah sekitar 40 tahun menulis. Kemudian  mulai dipercaya oleh penerbit, sekitar 10 tahun lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Tapi kondisi dulu beda dengan sekarang. Dulu, penerbit hanya sedikit. Dan mereka punya bargaining power yang sangat tinggi. Maka mereka sulit ditembus. Sekarang, ada sangat banyak penerbit. Bahkan menerbitkan sendiri pun bisa. Sehingga sekarang kalau ingin menerbitkan buku tidak butuh waktu lama untuk dipercaya penerbit.

Kalau kita masih pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Karena kita yang masih pemula butuh penerbit. Strateginya yang paling gampang adalah terus ikut kursus menulis seperti ini, lalu membuat naskah sambil konsultasi terus dengan penyelanggara.

Jadi intinya fokus dulu kepada proses mengasah skill menulisnya saja. Lalu biarkan hasil karya kita berseliweran di ruang publik. Nanti, bakal jadi seperti lampu yang akan  menarik perhatian para laron, yang mendatangi lampu tersebut, sedikit sedikit, akhirnya berdatangan pembaca menyukai tulisan atau buku kita. 

Menulis itu harus dipaksakan setiap hari . Karena, “paksaan” adalah sebuah proses yang efektif untuk mendisiplinkan seorang pembelajar yang belum memiliki refleks menulis sendiri. Beliau, sejak SD menulis   tetapi menulis setiap harinya harus setelah bekerja. Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa. Mengenai tema dan sistematika penulisan tidak usah terlalu dipikirkan jika dalam tahap belajar atau penulis pemula. Yang penting dan pokoknya adalah menulis saja. Tidak usah takut salah. Bagi pembelajar, yang terpenting adalah; kemauan untuk terus praktek menulis, dan bersedia mendengar masukan dari orang lain untuk perbaikan tulisan kita.

Jika ada orang bilang memulai itu sulit sekali, tetapi kita sebagai penulis harus bilang “Mulai Saja Cari Sebuah Kata” yang terlintas dalam pikiran atau benak kita. Insya Allah, nanti akan mengalir dengan sendirinya. Dan selalu minta petunjuk kepada Tuhan agar kita selalu dibimbing-Nya sehingga diberi kelancaran dalam menulis, menuangkan ide-ide dan gagasan kita. Kita harus menerima diri sendiri sebagai orang yang baru belajar. Jadi, kalau pun tulisan kita 'tidak laku' ya nggak apa-apa karena baru belajar. Latihan terus dan membuat tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarlah menjadi koleksi pribadi kita dan kita sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' diberitahukan kepada orang lain, maka tunjukkan kalau kita  bisa menulis, dan pilihlah orang yang tidak akan bersikap negatif terhadap tulisan kita.

Banyak orang tidak percaya diri saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Namun pasti ada minimal seseorang yang sedang menanti buah pikiranmu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman. Maka menulislah. Kemudian di dalam menulis sebuah buku tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan. Bisa kedua-duanya, yang penting tulisan kita jadi.

Untuk menjaga keistiqomahan atau keteguhan dalam  menulis setiap hari, kita harus  mempunyai alasan yang lebih tinggi , lebih mulia dan lebih bernilai , itu akan meneguhkan niat kita untuk menulis. Sekarang menulislah semata-mata karena kita menginginkan agar Allah mengajari kita tentang sesuatu. Dan jika Allah telah mengajarkan sesuatu untuk kita, maka kita akan mengajarkannya untuk orang lain dan  akan kita bagikan kepada orang lain.

Menulislah setiap hari sebuah artikel daripada pikiran kita sibuk memikirkan untuk menerbitkan buku. Karena dengan menulis setiap hari maka gagasan kita  akan lebih cepat sampai kepada orang lain.


                                                 Gunungkidul, 4 Mei 2020




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Portofolio Digital

Selamat datang di Portofolio Digital saya Saya,  Eni Indarwati, M.Pd.  Pengawas Sekolah Dasar di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Blo...