BELAJAR MENERBITKAN BUKU PADA PENERBIT MAYOR
Oleh Eni Indarwati
Dengan
kerendahan hati Bapak Ukim Komarudin,
nara sumber pertemuan online menyampaiakn ucapan terima kasih kepada panitia
yang telah memberikan kesempatan untuk berbagi. Beliau katakan “Saya masih belajar.
Jadi mohon maaf apabila yang saya sampaikan sederhana. Semangat berbagi yang
menyebabkan saya berani berbagi dalam kesempatan seperti ini. mohon doanya,
semoga bermanfaat”.
Menulis
merupakan ekspresi pribadi. Oleh karena itu, sangat penting memiliki tempat
mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. Menulis adalah sarana
yang tepat buat untuk mencurakankannya.
Tak perlu merasa khawatir, terkait dengan kualitas tulisan, juga tidak
perduli dengan ragam atau apa yang
menjadi trend di masyarakat. Pokoknya menulis. Menulis adalah kebutuhan. Dengan
menulis akan menemukan lebih tentang "saya". Demikian hal itu terus
berjalan hingga jika tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang hilang. Menulislah
dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya.
Sebagai
guru, menulis terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan
kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian dapat dilakukan
setiap saat. Hingga sampai suatu hari, tulisan-tulisan itu mulai dilirik
orang-orang terdekat, yang dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman
memberikan berkomentar bahwa tulisannya bagus, tulisannya emotif, tulisannya membuat
pembaca larut dalam cerita, bahasanya sederhana
dan mudah dicerna oleh pembaca. Bahkan dari tulisan dijadikan ceramah atau
kultum, dsb.
Komentar
tersebut, memotivasi untuk membukukan tulisan-tulisan yang berisi rekaman semua
kejadian dari kebiasaan membuat buku harian. Tulisan itu beragam kejadian,
beragam waktu, dan dari beragam tokoh. Sebuah usaha untuk mengumpulkan segenap
mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi penulis dan
semoga bermanfaat pula buat orang lain (pembaca).
Sebagi
penulis pemula tentu akan memperkirakan apakah bukunya akan laku di pasaran?
Apakah bukunya punya nilai tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku tersebut?
Untuk kepentingan pasar, apakah kita bersedia apabila beberapa hal terjadi
penyesuaian (diganti)? dst. Hal-hal demikian menjadikan perasaan kurang nyaman saat
diinterview oleh editor. Penulis merasa terpenjara, karena buku yang ditulisnya
merupakan ekspresi pribadi, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang
sangat privasi?
Penulis
mendapatkan banyak pelajaran setelah editor menjelaskan tentang penyebab sebuah
karya dapat dinikmati orang banyak. Editorlah yang menentukan naskah itu layak
diterbitkan atau sebaliknya. Jika tulisan layak diterbitkan maka harus dipoles
disana-sini.
Jika
naskah itu bisa melewati editor, maka proses "menjadi" memang
mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika
diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya dikerjakan oleh tim. Editor akan selalu memberikan konfirmasi, terhadap tulisan yang siap menjadi
buku. Semuanya perlu mendapat persetujuan penulis. Hingga akhirnya ada proses
sebelum naik cetak, yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Selanjutnya
proses penandatanganan kontrak kerjasama.
Setelah
buku diterbitkan, penulis akan menerima buku pribadi, jumlahnya hanya 5 buku.
Buku tersebut berstempel tidak diperjualbelikan. Langkah selanjutnya adalah launching buku. Dalam lounching ini,
penulis diminta pendapat atau masukan bagaimana membuat buku tersebut bisa laku.
Penulis harus dapat memberikan masukan yang berarti. Setelah penerbitan
pertama, kurang lebih 6 bulan kemudian penulis akan mendapat royaltinya.
Peran
penulis kemudian adalah mengusahakan bukunya dapat dinikmati orang lain. Penulis
dapat menjual buku-buku ketika menjadi pembicara. Biasanya penulis yang
sekaligus pembicara akan memanfaatkan waktu untuk menjual buku-bukunya pada kesempatan bicara
tersebut.
NARASUMBER MEBJAWAB
Bagaimana kriteria layak atau tidaknya sebuah buku
dapat di terbitkan oleh penerbit terutama buku pelajaran? Memang ada kriteria yang dianggap layak untuk diterbitkan. Khususnya
terkait buku mata pelajaran, biasanya mereka mencari buku: (1) menunjukkan
penggunaan pendekatan baru; (2) lebih lengkap; (3) penulisnya memang
berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah (enak dibaca); dan diutakan dari hasil penelitian
lembaga-lembaga pendidikan terbaik.
Bagaimana
pengalaman Om Ukim dalam tulis menulis, terkait 1) berapa lama tulisannya mulai
di lirik? Paling lama 6 bulan. Jika tidak ada kabar. Berpindah ke lain
hati (penerbit lain) atau naskah direvisi ulang.
Media apa yang mempublish tulisan Om, pertama
kali? Saya menulis di buletin sekolah,
kemudian buletin pendidikan DKI, lalu buletin Diknas, dst.
Bagaimana
latar belakang buku “Guru Juga Manusia” sehingga bisa best seller dan buku best
seller tsb brp exsemplar laku dan brp mendapat royalti dari buku tsb? (maaf agak privasi)? Buku Guru juga Manusia bisa
terjual banyak karena bantuan publikasi media sosial yang saaat itu sudah mulai
menggejala. Untuk buku berikutnya, saya mendapatkan berkah dari medsos itu. Saya
tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak saya terbitkan daripada
yang saya terbitkan. Saya memang bukan tipe pandai menjual ide.
Ada
tidak perubahan motivasi oom ukim dalam menulis? Saya senang menulis. Yang menarik buat saya tulis, ya saya tulis. Tak
peduli tak dilirik penerbit. Tapi Allah maha pengasih. Beberapa sering dilirik
penerbit dan jadi berkah buat keluarga.
Intervew
sama siapa dan apa hal yang sangat berkesan dari intervew tsb? Yang interview dari dulu sampai kini pasti
dia editor. Dialah penentunya. Saya sering berdoa, dan ternyata sering benar,
"Dia lebih pintar dari saya". Minimal soal membuat buku saya laku di
pasaran.
Dalam
buku mengumpulkan yang bersek tsb berapa naskah semua, naskah mana yg paling
berkesan dan berapa lama munulis buku tsb? Semua
buku berkesan. Dia seperti anak saya. Dia ada yang berkembang dan bermakna bagi
masyarakat luas. Ada juga yang diam-diam hanya dibaca sahabat dekat ketika dia
terpuruk di sudut kamarnya. Semuanya saya syukuri. Ia lahir dari saya, saya
bangga atas rezekinya.
Jika
menulis di mayor di kasih waktu berapa lama untuk menulis setelah menyetorkan
judul atau setelah kontrak di berikan, apakah setelah mendapat kontrak menulis
di penerbit mayor, akan di tawari kerja sama lagi setiap tahunnya? Ketika bertemu penerbit saya sudah bawa
naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai bicara. Saya sering diminta menulis
terus oleh beberapa penerbit karena beberapa buku saya yang dipergunakan di
lembaga pendidikan terbit terus. mungkin sekarang sudah jilid belasan. Masalahnya di pembagian waktu atau
prioritas. kelemahannya juga ada di saya. Pribadi saya kurang bisa kompromi.
Tapi percayalah, dari karya Bapak yang sungguh-sungguh akan ada tawaran
berikutnya. Masalahnya, Bapak berkenan membagi waktu dan prioritas?
Bagaimana
mengetahui gaya selingkung penerbit? Saya
termasuk orang yang nggak mau belajar tentang itu. Bisa terkuras energi kita
jika memikirkan hal itu. Itu sebabnya, saya menulis untuk diri saya. Jadi,
ketika itu jadi duit, alhamdulillah. Lalu, saya tak mendapat konfirmasi
sekaligus royalti, padahal di belakang saya mereka menerbitkan dan menjual buku
saya. Silakan. Makan tuh rezeki saya semoga jadi amal yang dipakai kebaikan.
Saya kurang suka dengan hal-hal yang diluar jangkauan saya.
Bagaimana
cara mengatasi kebosanan dalam menulis cerpen dan novel? Diduga salah memilih kategori ekspresi menulis.
Saya
suka menulis novel.Tapi,kenapa saya terus mengulang ulang kesalahan yg
sama.Misal tokoh terlalu banyak,jalan cerita mudah ketebak,bagaimana cara
mengatasi nya? Harus menempatkan diri
sesuai stamina dan kecenderungan Bapak. Ada tipe sprinter, maka pilih cerpen.
Kalau Marathon, pilih novel. Mungkin bertahap ya, pak. dari lari jarak pendek
karen latihan akhirnya bisa lari jarak jauh. Ada yang disebut, Premis (tema besar). Biasa terdiri atas satu
paragraf. Hebatnya, ia adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide,
tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat memulia dari itu, Pak. Percayalah, jika
tidak memulia dari situ, kemungkinannya kalah tenaga, atau ngawur kemana-manaya
tipe orang yang sering menyembunyikan karaya jika belum final. Saya orang
teater, pak. Saya suka membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita.
termasuk di sini kelahiran anak (karya) saya yang mengejutkanan.
Saya mempunyai asisten penulis novel-->2 teman saya beda kelas dan
teman saya satu kelas. Alasan saya butuh asisten karena mereka sebelumnya
pernah menulis novel di wattpad dan menjadi suka menggambar.Sehingga diharapkan
agar ceritaku bisa dilihat dari sudut pandang bayak orang,tapi apakah langkah
itu sudah betul? Permasalahan penulis
pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak
jadi-jadi. Baru satu bab dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya
Ambyar.Tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya
editor. Jika mereka menganggap tulisan bapak nggal laku di pasaran, tapi Bapak
bilang itu bagus tak apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek,
saat itu malah dicari dan dibenarkan orang. Membaca yang banyak dan siapa saja
yang Bapak suka. Hebatnya, Tuhan Mahakreatif dan Penyayang. Kita akan tumbuh
menjadi diri sendiri tidak seperti Tere dan lainnya. Memang ada sedikit unsur,
seperti ... tapi dalam dunia imajinassi itu sah. namanya terinspirasi.
Bagaimana
memulai menulis buku yang bisa meyakinkan bagi penulis? Mulailah menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip
ekspresi bentukannya seperti buku yang akan Bapak buat. Ketika kita datang ke
perpustakaan atau toko buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi. kadang-kadang,
saya membeli buku atas tujuan seperti itu, Pak. Tentang meyakinkan memang
dimulai dari Bapak dahulu. kalau Bapak kurang yakin, celakanya pembaca juga
demikian. Mulailah banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat
Bapak. Dari situ, bapak punya standar sendiri.
Adakah
tips dan trik agar kita bisa menjadi penulis produktif yang layak diterbitkan?
bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis(memulainya)? Penulis yang baik memang pembaca yang baik.
Banyak-banyaklah membaca sehingga akan mampu menulis. Saya setuju dengan himbauan menulislah setiap hari. Tapi
tolong disertai membaca agar tulisan kita berkualitas. Itu hukumnya, Het. Menulis (produktif) pasokannya
adalah membaca (receptif). Manulis saja. Dengarkan respons dari sekitar. Kita
memang membutuhkan orang yang membuat kita terlecut menjadi lebih baik.
Apakah
gaya bahasa sehari-hari bapak tertuang persis sama dengan gaya menulis di buku?
Bagaimana mengolah bahasa sehari-hari agar renyah dibaca orang? Pada akhirnya kita akan menjadi diri kita
sendiri. Termasuk dalam hal karya. Yulus akan menemukan warna, tipe, dan
kekuatan sendiri dalam menulis. Ketika teman-teman Yulus memuji tulisan Yulus,
maka di saat itulah kualitas naik ke permukaan. Teruskan dan pupuk kekuatan
itu. Sampai kalau serpihan tulisan Bapak terjatuh di jalanan, ada seorang teman
yang mengantarkan kepada Anda bahwa ini tulisan milik Anda. Kita akan bertanya,
"kok tahu sih ini tulisan saya?" Dia kan jawab, "Saya sudah
hapal itu Gaya Anda".
Ada
kehebatan dari seorang penulis. Ia jelas ekspresinya. Ia juga punya daya
jangkau dakwah yang lebih luas dalam menebar kebaikan. Ia juga punya legacy
atau warisan untuk pertinggal jejak kebaikannya, yakni tulisannya. Menulislah,
setiap hari. karena anda akan menemukan kebahagiaan; menulis berarti kita
MENCIPTAKAN SEJUMLAH KEBAIKAN.
Gunungkidul,
4 Mei 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar