Jumat, 08 Mei 2020

MENERBITKAN BUKU PADA PENENRBIT MAYOR


BELAJAR MENERBITKAN BUKU PADA PENERBIT MAYOR

Oleh Eni Indarwati


Dengan kerendahan hati  Bapak Ukim Komarudin, nara sumber pertemuan online menyampaiakn ucapan terima kasih kepada panitia yang telah memberikan kesempatan untuk berbagi. Beliau katakan “Saya masih belajar. Jadi mohon maaf apabila yang saya sampaikan sederhana. Semangat berbagi yang menyebabkan saya berani berbagi dalam kesempatan seperti ini. mohon doanya, semoga bermanfaat”.

Menulis merupakan ekspresi pribadi. Oleh karena itu, sangat penting memiliki tempat mencurahkan segala kegelisahan atau apapun bentuknya. Menulis adalah sarana yang tepat buat untuk mencurakankannya.  Tak perlu merasa khawatir, terkait dengan kualitas tulisan, juga tidak perduli  dengan ragam atau apa yang menjadi trend di masyarakat. Pokoknya menulis. Menulis adalah kebutuhan. Dengan menulis akan menemukan lebih tentang "saya". Demikian hal itu terus berjalan hingga jika tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang hilang. Menulislah dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya.

Sebagai guru, menulis terkait pelajaran, beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan yang harus dituliskan di majalah, dan menulis buku harian dapat dilakukan setiap saat. Hingga sampai suatu hari, tulisan-tulisan itu mulai dilirik orang-orang terdekat, yang dalam hal ini teman-teman guru. Satu dua teman memberikan berkomentar bahwa tulisannya bagus, tulisannya emotif, tulisannya membuat pembaca larut dalam cerita,  bahasanya sederhana dan mudah dicerna oleh pembaca. Bahkan dari tulisan dijadikan ceramah atau kultum, dsb.

Komentar tersebut, memotivasi untuk membukukan tulisan-tulisan yang berisi rekaman semua kejadian dari kebiasaan membuat buku harian. Tulisan itu beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam tokoh. Sebuah usaha untuk mengumpulkan segenap mutiara yang berserakan dalam kehidupan yang sangat bermanfaat bagi penulis dan semoga bermanfaat pula buat orang lain (pembaca).

Sebagi penulis pemula tentu akan memperkirakan apakah bukunya akan laku di pasaran? Apakah bukunya punya nilai tambah sehingga pembaca melirik dan membeli buku tersebut? Untuk kepentingan pasar, apakah kita bersedia apabila beberapa hal terjadi penyesuaian (diganti)? dst. Hal-hal demikian menjadikan perasaan kurang nyaman saat diinterview oleh editor. Penulis merasa terpenjara, karena buku yang ditulisnya merupakan ekspresi pribadi, mengapa orang lain bisa mengatur hal-hal yang sangat privasi?

Penulis mendapatkan banyak pelajaran setelah editor menjelaskan tentang penyebab sebuah karya dapat dinikmati orang banyak. Editorlah yang menentukan naskah itu layak diterbitkan atau sebaliknya. Jika tulisan layak diterbitkan maka harus dipoles disana-sini.

Jika naskah itu bisa melewati editor, maka proses "menjadi" memang mengalami banyak hal. Ada bagian gambar sampul, ilustrasi, photo jika diperlukan, tata letak, dan lainnya. Yang jelas, semuanya dikerjakan oleh tim.  Editor akan selalu memberikan  konfirmasi, terhadap tulisan yang siap menjadi buku. Semuanya perlu mendapat persetujuan penulis. Hingga akhirnya ada proses sebelum naik cetak,  yakni menerima dami atau calon buku yang sama persis jika akhirnya bisa dicetak. Selanjutnya proses penandatanganan kontrak kerjasama.

Setelah buku diterbitkan, penulis akan menerima buku pribadi, jumlahnya hanya 5 buku. Buku tersebut berstempel tidak diperjualbelikan. Langkah selanjutnya adalah launching buku. Dalam lounching ini, penulis diminta pendapat atau masukan bagaimana membuat buku tersebut bisa laku. Penulis harus dapat memberikan masukan yang berarti. Setelah penerbitan pertama, kurang lebih 6 bulan kemudian penulis akan mendapat royaltinya.
Peran penulis kemudian adalah mengusahakan bukunya dapat dinikmati orang lain. Penulis dapat menjual buku-buku ketika menjadi pembicara. Biasanya penulis yang sekaligus pembicara akan memanfaatkan waktu untuk  menjual buku-bukunya pada kesempatan bicara tersebut.

NARASUMBER MEBJAWAB

Bagaimana  kriteria layak atau tidaknya sebuah buku dapat di terbitkan oleh penerbit terutama buku pelajaran? Memang ada kriteria yang dianggap layak untuk diterbitkan. Khususnya terkait buku mata pelajaran, biasanya mereka mencari buku: (1) menunjukkan penggunaan pendekatan baru; (2) lebih lengkap; (3) penulisnya memang berkualifikasi luar biasa; (4) Naskah renyah (enak dibaca);  dan diutakan dari hasil penelitian lembaga-lembaga pendidikan terbaik.

Bagaimana pengalaman Om Ukim dalam tulis menulis, terkait 1) berapa lama tulisannya mulai di lirik? Paling lama 6 bulan. Jika tidak ada kabar. Berpindah ke lain hati (penerbit lain) atau naskah direvisi ulang.

Media apa yang mempublish tulisan Om, pertama kali? Saya menulis di buletin sekolah, kemudian buletin pendidikan DKI, lalu buletin Diknas, dst.

Bagaimana latar belakang buku “Guru Juga Manusia” sehingga bisa best seller dan buku best seller tsb brp exsemplar laku dan brp mendapat royalti dari buku tsb?  (maaf agak privasi)? Buku  Guru juga Manusia bisa terjual banyak karena bantuan publikasi media sosial yang saaat itu sudah mulai menggejala. Untuk buku berikutnya, saya mendapatkan berkah dari medsos itu. Saya tipe penulis. Mungkin, lebih banyak buku yang tidak saya terbitkan daripada yang saya terbitkan. Saya memang bukan tipe pandai menjual ide.

Ada tidak perubahan motivasi oom ukim dalam menulis? Saya senang menulis. Yang menarik buat saya tulis, ya saya tulis. Tak peduli tak dilirik penerbit. Tapi Allah maha pengasih. Beberapa sering dilirik penerbit dan jadi berkah buat keluarga.

Intervew sama siapa dan apa hal yang sangat berkesan dari intervew tsb? Yang interview dari dulu sampai kini pasti dia editor. Dialah penentunya. Saya sering berdoa, dan ternyata sering benar, "Dia lebih pintar dari saya". Minimal soal membuat buku saya laku di pasaran.

Dalam buku mengumpulkan yang bersek tsb berapa naskah semua, naskah mana yg paling berkesan dan berapa lama munulis buku tsb? Semua buku berkesan. Dia seperti anak saya. Dia ada yang berkembang dan bermakna bagi masyarakat luas. Ada juga yang diam-diam hanya dibaca sahabat dekat ketika dia terpuruk di sudut kamarnya. Semuanya saya syukuri. Ia lahir dari saya, saya bangga atas rezekinya.

Jika menulis di mayor di kasih waktu berapa lama untuk menulis setelah menyetorkan judul atau setelah kontrak di berikan, apakah setelah mendapat kontrak menulis di penerbit mayor, akan di tawari kerja sama lagi setiap tahunnya? Ketika bertemu penerbit saya sudah bawa naskah utuh. Dari naskah itu kita mulai bicara. Saya sering diminta menulis terus oleh beberapa penerbit karena beberapa buku saya yang dipergunakan di lembaga pendidikan terbit terus. mungkin sekarang sudah jilid  belasan. Masalahnya di pembagian waktu atau prioritas. kelemahannya juga ada di saya. Pribadi saya kurang bisa kompromi. Tapi percayalah, dari karya Bapak yang sungguh-sungguh akan ada tawaran berikutnya. Masalahnya, Bapak berkenan membagi waktu dan prioritas?

Bagaimana mengetahui gaya selingkung penerbit? Saya termasuk orang yang nggak mau belajar tentang itu. Bisa terkuras energi kita jika memikirkan hal itu. Itu sebabnya, saya menulis untuk diri saya. Jadi, ketika itu jadi duit, alhamdulillah. Lalu, saya tak mendapat konfirmasi sekaligus royalti, padahal di belakang saya mereka menerbitkan dan menjual buku saya. Silakan. Makan tuh rezeki saya semoga jadi amal yang dipakai kebaikan. Saya kurang suka dengan hal-hal yang diluar jangkauan saya.

Bagaimana cara mengatasi kebosanan dalam menulis cerpen dan novel? Diduga salah memilih kategori ekspresi menulis.

Saya suka menulis novel.Tapi,kenapa saya terus mengulang ulang kesalahan yg sama.Misal tokoh terlalu banyak,jalan cerita mudah ketebak,bagaimana cara mengatasi nya? Harus menempatkan diri sesuai stamina dan kecenderungan Bapak. Ada tipe sprinter, maka pilih cerpen. Kalau Marathon, pilih novel. Mungkin bertahap ya, pak. dari lari jarak pendek karen latihan akhirnya bisa lari jarak jauh. Ada yang disebut, Premis (tema besar). Biasa terdiri atas satu paragraf. Hebatnya, ia adalah sebuah headline yang memegang pergerakan ide, tokoh, dan alur cerita. Penulis hebat memulia dari itu, Pak. Percayalah, jika tidak memulia dari situ, kemungkinannya kalah tenaga, atau ngawur kemana-manaya tipe orang yang sering menyembunyikan karaya jika belum final. Saya orang teater, pak. Saya suka membuat kejutan dengan membina puncak-puncak cerita. termasuk di sini kelahiran anak (karya) saya yang mengejutkanan.

Saya mempunyai asisten penulis novel-->2 teman saya beda kelas dan teman saya satu kelas. Alasan saya butuh asisten karena mereka sebelumnya pernah menulis novel di wattpad dan menjadi suka menggambar.Sehingga diharapkan agar ceritaku bisa dilihat dari sudut pandang bayak orang,tapi apakah langkah itu sudah betul? Permasalahan penulis pemula sering serakah. Jadi penulis sekaligus editor. Akhirnya, nggak jadi-jadi. Baru satu bab dikoreksi. Baru lima lembar disalahkan sendiri. Ya Ambyar.Tulis saja, nanti ada jurinya: diri sendiri, teman penulis, dan akhirnya editor. Jika mereka menganggap tulisan bapak nggal laku di pasaran, tapi Bapak bilang itu bagus tak apa. Ada suatu masa yang dikatakan banyak orang jelek, saat itu malah dicari dan dibenarkan orang. Membaca yang banyak dan siapa saja yang Bapak suka. Hebatnya, Tuhan Mahakreatif dan Penyayang. Kita akan tumbuh menjadi diri sendiri tidak seperti Tere dan lainnya. Memang ada sedikit unsur, seperti ... tapi dalam dunia imajinassi itu sah. namanya terinspirasi.

Bagaimana memulai menulis buku yang bisa meyakinkan bagi penulis? Mulailah menulis dengan membaca buku-buku yang diduga akan mirip ekspresi bentukannya seperti buku yang akan Bapak buat. Ketika kita datang ke perpustakaan atau toko buku, kita membaca untuk mendapatkan inspirasi. kadang-kadang, saya membeli buku atas tujuan seperti itu, Pak. Tentang meyakinkan memang dimulai dari Bapak dahulu. kalau Bapak kurang yakin, celakanya pembaca juga demikian. Mulailah banyak membaca karya-karya yang bagus yang menjadi minat Bapak. Dari situ, bapak punya standar sendiri.

Adakah tips dan trik agar kita bisa menjadi penulis produktif yang layak diterbitkan? bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri dalam menulis(memulainya)? Penulis yang baik memang pembaca yang baik. Banyak-banyaklah membaca sehingga akan mampu menulis. Saya setuju  dengan himbauan menulislah setiap hari. Tapi tolong disertai membaca agar tulisan kita berkualitas.  Itu hukumnya, Het. Menulis (produktif) pasokannya adalah membaca (receptif). Manulis saja. Dengarkan respons dari sekitar. Kita memang membutuhkan orang yang membuat kita terlecut menjadi lebih baik.

Apakah gaya bahasa sehari-hari bapak tertuang persis sama dengan gaya menulis di buku? Bagaimana mengolah bahasa sehari-hari agar renyah dibaca orang? Pada akhirnya kita akan menjadi diri kita sendiri. Termasuk dalam hal karya. Yulus akan menemukan warna, tipe, dan kekuatan sendiri dalam menulis. Ketika teman-teman Yulus memuji tulisan Yulus, maka di saat itulah kualitas naik ke permukaan. Teruskan dan pupuk kekuatan itu. Sampai kalau serpihan tulisan Bapak terjatuh di jalanan, ada seorang teman yang mengantarkan kepada Anda bahwa ini tulisan milik Anda. Kita akan bertanya, "kok tahu sih ini tulisan saya?" Dia kan jawab, "Saya sudah hapal itu Gaya Anda".

Ada kehebatan dari seorang penulis. Ia jelas ekspresinya. Ia juga punya daya jangkau dakwah yang lebih luas dalam menebar kebaikan. Ia juga punya legacy atau warisan untuk pertinggal jejak kebaikannya, yakni tulisannya. Menulislah, setiap hari. karena anda akan menemukan kebahagiaan; menulis berarti kita MENCIPTAKAN SEJUMLAH KEBAIKAN.


                                                                   Gunungkidul, 4 Mei 2020


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Portofolio Digital

Selamat datang di Portofolio Digital saya Saya,  Eni Indarwati, M.Pd.  Pengawas Sekolah Dasar di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Blo...