BUKUMU ADALAH CATATAN SEJARAHMU
Oleh Eni
Indarwati
|
|
Profil
Narasumber
Farrah Dina, M.Sc. lahir di
Jakarta, 17 Maret 1980. Riwayat
pendidikan, beliau pernah mengenyam pendidikan di Tokyo Gakugei University,
Tokyo, Jepang, Teacher Training Program Jurusan Curriculum Theory (2014) State University of New York, College
at Buffalo Master of Science in Multidisciplinary Studies (2007), dan Institut
Pertanian Bogor Sarjana Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (2003).
Saat ini beliau sebagai pendidik, pelatih guru, dan penulis. Farrah Dina adalah
pendiri Tangga Edu dan telah menulis 20 judul buku, berkaitan dengan pendidikan
untuk guru dan orangtua serta buku-buku bergambar untuk anak.Luar biasa di usia
beliau yang masih tergolong muda namun hasil karyanya sudah mencapai 20 buku.
Tema kuliah online kali ini
adalah “Terbitkan buku, catatkan
sejarah.” Narasumber memulai kuliahnya dengan mengajak peserta menyaksikan
video pada link youtubhttps://www.youtube.com/watch?v=_7_bUDRAnhY&feature=youtu.be
Menurut Farrah Dina, menulis dan
menerbitkan buku adalah dua hal yang berbeda. Seorang penulis sebaiknya bertekun
dahulu dalam menulis sampai karyanya berkualitas dan sangat dibutuhkan dan
barulah menerbitkan buku. Yang paling penting bagi seorang
penulis adalah menulis. Penerbitan adalah sebuah akibat. Adapun yang terpenting
bagi penulis adalah pembaca. Penulis tak ada artinya tanpa pembaca.
Farrah Dian, menyampaikan 4 (empat) R yang perlu diperhatikan dalam
menulis sampai menerbitkan buku, Yaitu; Renjana,
Rutin, Reveiu, dan Ruang bagi
pembaca
Berikut penjelasan 4 R oleh
narasumber:
1. Renjana
Tentukan
renjana atau passion kita di mana. Sesuatu yang sudah menjadi pikiran kita. Mulai
apa yang kita sukai dan kita kuasai agar tulisan kita bisa mengalir. Bisa buku
tentang motivasi, Agama,buku anak, penelitian dan lain-lain. Renjana adalah
passion, ketertarikan kita pada satu hal yang kita akan mengerahkan energi kita
untuk itu dengan senang hati. Menulis sesuatu yang sesuai dengan renjana kita,
itu akan menjadi kekuatan di awal. Manusia memerlukan reward langsung. Saat
kita menulis sesuatu yang sesuai dengan minat kita, maka kita akan menikmatinya
dan hasilnya pun akan cepat jadi. Hasil tulisan yang jadi ini menjadi reward
sendiri untuk kita sehingga kita akan terus termotivasi untuk menulis. Setelah
itu, barulah berkreasi dengan berbagai genre
agar kita menguasai menulis berbagai
hal.
2. Rutin
Bukan
hanya rutin menulis, tapi kita harus juga
rutin membaca. Ketika kita banyak membaca, maka kosa kata kita pun akan
bertambah. Seringlah membaca dengan banyak buku dengan genre masin-masing.
Selanjutnya kita ada keinginan untuk membuat bentuk tulisan yang lain. Setelah
itu kita akan rutin menulis, dengan menyiapkan waktu dan tempat khusus untuk
menulis. Menulis bisa di mana saja, kapan saja dan tentang apa saja. Setiap
melihat sesuatu yang menarik maka itu bisa menjadi sumber ide. Gunakan catatan,
note di HP, rekam dengan recorder tool. Kita harus mengumpulkan bahan-bahan
cerita. Jangan menunda menuliskan ide yang telah didapatkan. Dan segera
dapatkan emosi dari tulisan kita untuk membentuk rutinitas.Ada pepatah “Orang menunggu akan kalah dengan orang yang
melakukan. Orang yang memendam akan kalah dengan orang yang mengungkapkan”.
3. Review.
Setelah
kita punya kumpulan tulisan, maka waktunya mereview secara berulang-ulang.
Inilah proses terpanjang dalam menulis. biarlah tulisan kita mengalir. Pada
saat menulis draft, maka tulis semua yang ingin ditulis. Tidak perlu diedit,
tidak perlu dilihat nama tokohnya, waktunya, scanannya, skenario, logikanya,
alurnya. Tulis saja, biarkan mengalir. Nanti di tahap review, baru kita
melihat, misalnya tokohnya, alurnya logikanya dan sebagainya. Review juga
penting untuk melihat pasar kita. Apa yang mau ditulis? Siapa audiencenya? Apa
yang dibutuhkan? Misalnya background dan alasan menulis. Hasil penelitian bisa
dibukukan menjadi tulisan yang populer.
4. Ruang
bagi pembaca.
Setelah
melakukan review, jangan berhenti di sini, jika dirasakan review kita sudah
bagus. Namun, yang penting adalah review dari pembaca buku yang kita tuju. Jika
bukunya tentang guru, maka pembacanya adalah guru, dan jika buku itu untuk
orang tua, maka pembacanya dalah orang tua. Ruang bagi pembaca di sini adalah
bukan kita meminta mereka untuk membaca buku, kemudian kita mengharapkan respon
positif dari mereka. Namun, yang kita harapkan adalah tanggapan-tanggapan
negatif dari pembaca agar kita bisa memperbaiki yang masih kurang. Perlu
diingat, ini penting, jangan sampai ruang bagi pembaca ini menghilangkan jati
diri kita sebagai penulis. Kadang ada review berasal dari hal-hal yang tidak
terpikirkan oleh kita, tidak kita perkirakan. Hal ini karena pola pikir dan
daya tangkap setiap pembaca berbeda.
Seorang
penulis tidak berarti tanpa hadirnya pembaca. Maka hadirnya pembaca menjadi
penting. Karena itu, share di medsos dan meminta orang-orang terdekat kita
membacanya. Itu hal yang baik untuk memberikan motivasi dan masukan untuk kita
lebih baik dan berarti.
NARASUMBER MENJAWAB
Apakah
kita harus melalui tahapan 4R agar buku yang diterbitkan berkualitas? Tidak selalu seperti itu. Ini dirangkum dr
pengalaman2 penulis yg hebat yg sudah menerbitkan banyak buku dan disukai.
Mereka akan menulis yg betul2 sesuai dgn renjananya lalu terbiasa menulis
(rutin). Pada awal menulis buku, jangan kita dipusingkan dengan editing &
lain2nya yg nanti justru akan menghambat jadinya sebuah naskah. Tapi setelah
itu, baru dilakukan review berulang (dan ini proses panjang). Seringkali bahkan
naskah final sangat berbeda dr naskah awalnya... Kekuatannya di review ini.
Untuk ruang pembaca, tujuan kita menulis adalah untuk dibaca jadi perlu
mendengar masukan dari pembaca juga
Bagaimana
teknis/langkah mengubah tulisan dari best
practice menjadi tulisan populer? Banyak
buku-buku yang sekarang best seller adalah buku2 ilmiah tapi disajikannya dalam
bentuk populer tidak penuh dengan data-data yang memusingkan. Sebaiknya ibu
membaca contoh buku-buku populer yang berdasarkan pendekatan ilmiah... Dari
buku-buku ini yang saya perhatikan mereka akan membahas "Permasalahan"
lalu "jawabannya" dgn sedikit-sedikit memasukkan teori-teori
pendukung. Jadi yang dibahas bukan teroinya, ada unsur emosi kuat yang dibangun
sehingga ada konektivitas dengan pembaca. Beberapa
contoh buku ilmiah dibuat populer (maaf yang terbayang saat ini buku2
terjemahan), seperti: Good to Great (penelitian dari 500 perusahaan sukses
dunia, The Miracle of Endorphin (pendekatan psikologis untuk metode
pengobatan), The Leader in Me (praktik-praktik di sekolah yang menerapkan 7
Habit).
Bagaimana menampilkan "voice" pada
buku populer atau membangun emosi, misalnya dengan memasukkan isi wawancara,
atau data-data non formal yg lebih hidup.
Bagaimana
kita mengetahui passion kita dengan mudah? Tidak
sedikit orang yang merasakan hal yang sama dengan ibu. Memang ada orng-orang
yang dari awal sudah tau apa bidang menulis yang akan digelutinya dan ada juga
yang butuh waktu. Cara paling ampuh adalah dengan terus menulis, nanti akan
kelihatan kecenderungan kita. Bahkan, dengan mengumpulkan bank tokoh, situasi,
pengalaman ke dalam bentuk rekaman/tulisan pun nanti akan terlihat apa yang
menjadi renjana kita. Kita bisa lihat dari bank yang sudah kita kupulkan, apa
sih yang menarik untuk kita yang mendorong kita untuk mengungkapkannya. Nah
itulah renjana kita. Cara lain paling mudah mengetahuinya adalah dengan melihat
mana tulisan yang paling cepat saya selesaikan dan kita merasa mudah.
Tentang
pembuatan buku anak-anak, misalnya kita menulis berdasarkan apa yang kita
lihat, kemudian kita tambahkan dengan khayalan dan imajinasi kita boleh tidak?
Jadi tidak pyur fiksi. Nah yang sperti itu termasuk kategori buku apa? Boleh sekali memasukkan imajinasi ke dalam
buku anak. Justru imajinasi itu kekuatan dari buku anak. Seperti binatang
berbicara, anak pergi ke ruang angkasa, berteman dengan robot, itu adalah
imajinasi. Yang tidak boleh adalah
takhayul dan imajinasi yang mengandung kekekrasan. Saya pribadi keberatan
dengan anak durhaka menjadi batu, siasat membunuh raksasa seperti dalam legenda
asal usul Danau Batur, dll. Sikap jahat akan ada akibatnya, dan bisa dalam
bentuk imajinasi tapi sebisa mungkin berkaitan dengan perbuatannya & tidak
berlebihan.
Apa yang
ibu lakukan sehingga dapat menemukan passion ibu yaitu menulis buku
anak? Saya menemukan renjana saya
berawal dari pendidikan sy di Amerika & Jepang yang di mana mereka sangat
serius memikirkan buku anak. TIdak halnya di Indonesia. Sebenarnya ini juga
berawal dari kebutuhan, saat di Jepang anak saya masih TK dan akan kembali ke
Indonesia masuk SD. Jadi saya harus mengajarkan membaca. Sy minta dikirimkan
buku2 dari Indonesia tapi saya tidak puas. Lalu saya menulis buku sendiri dan
ternyata itu menyenangkan buat saya dan saya merasa bisa memberi solusi pada
permaslaahan yang ada. Selanjutnya saya juga melakukan penelitian di bidang
membacausia SD, dan salah satu hal yang dibutuhkan adalah buku anak
berkualitas. Di pasar, buku anak berkualitas itu biasanya harganya mahal. Ini
yang menjadi motivasi besar, menciptakan buku-buku berkualitas dengan harga
terjangkau. Ini yang menjadi motivasi terbesar dan itulah passion saya...
Walaupun saya tetap memaksakan diri untuk terus menulis genre lain.
Karena rutinnya saya menulis buku anak dan
pendidikan, saya agak meninggalkan bentuk tulisan ilmiah. Pada saat saya
mengalami ini, saya "memaksa" diri saya untuk mengirimkan rencana
penelitian utk mendapat beasiswa. Denagn tenggat yang jelas akan jadi motivasi
untuk kita. Ini juga perlu dilakukan. Alhamdulillah dengan research plan yg sy
buat, sy bs diterima di univ di jepang.
Apa yang
melatarbelakangi ibu mendirikan Tangga Edu dan juga bisa menjadi penulis? Jawabannya sama dengan pertanyaan kelima
ya bu.... Yang menjadi motivasi sy adalah bagaimana memberi manfaat sebesar
mungkin untuk negri Indonesia tercinta ini... Sama dengan BApak & Ibu
semua.
Bagaimana
memanage 4 R ini agar menjadi sebuah kesatuan utuh untuk saling melengkapi
dalam menulis? LAKUKAN... itu kunci
utamanya. Dengan melakukan maka saya yakin Bapak akan menemukan polanya
tersendiri. Yang perlu diingat adalah di awal, tulis dulu apa yang mudah untuk
kita, tapi perlu dipaksakan juga agar menjadi rutinitas. Dengan begitu kita
akan sangat terbiasa.... Saat ingin dipublish ke orang lain, maka perlu
dilakukan review berulang-ulang. Jangan lakukan review saat menulis di awal,
karena nanti tidak akan jadi karya krn kita berkutat dengan banyak hal. Selamat
menulis
Menurut
ibu apakah seorang penulis harus fokus pada satu passion atau genre tulisan
agar tulisannya btul2 baik...dan mmg ada tdk pngruh taste/rasa tulisan
seseorang yang suka mngrjkn dua tulisan(fiksi dn non fiksi) secara bersamaan? Sebagai awal, tulis dulu sesuatu yang mudah
bagi kita, yang sesuai dengan renjana kita, yang kita senang saat
menuliskannya. Ini gunanya untuk memberi reward terhadap diri sendiri. Dengan
jadinya naskah yang kita sukai, itu akan menjadi bahan bakar bagi kita untuk
terus menulis. Jika di awal kita sudah tidak cukup motivasinya, maka akan
terhmbat, Tulislah sesuatu yang benatul2 isi kepala atau hati kita yang ingin
disampaikan ke orang lain.
Selanjutnya, kita menyesuaikan diri dan bisa
menulis dengan genre apapun, tentu dengan latihan dan pembiasaan. Bahkan kita
pun harus bisa menulis sesuai dengan kebutuhan pembaca... Ini yang nantinya
perlu dikuasai setelah kita menguasai sedikit hal yang menjadi kekuatan utama
kita. Semangat menuli 💪💪
Bagaimana
cara awal untuk mengetahui passion seseorang? Kalaupun belum mengetahui pasiion nya saat ini, yang penting adalah
menuliskan sesuatu yang betul2 kita merasa menikmati dalam menuliskannya.
4 R,
salah satunya adalah Renjana, dari bahasa apa itu Renjana dan mengapa ibuk
letakkan di poin paling atas? Renjana
adalah passion, ketertarikan kita pada satu hal yang kita akan mengerahkan
energi kita untuk itu dengan senang hati. Menulis sesuatu yang sesuai dengan
renjana kita, itu akan menjadi kekuatan di awal. Manusia memerlukan reward
langsung. Saat kita menulis sesuatu yang sesuai dengan minat kita, maka kita
akan menikmatinya & hasilnya pun akan cepat jadi. Hasil tulisan yang jadi
ini menjadi reward sendiri untuk kita sehingga kita akan terus termotivasi
untuk menulis. Setelah itu, barulah berkreasi dengan berbagai genre agar kita
menguasai menulis berbagai hal.
Bagaimana
caranya agar dapat menerima tanggapan pembaca yang negatif pada tahap ruang
bagi pembaca? Bagaimana tips mengubah
penulisan ilmiah menjadi penulisan populer? Menerima tanggapan negatif memang tidak mudah. Jangan sampai juga itu
medemotivasi kita dan menghilangkan jati diri kita. Saat kita mendengar
tanggapan pembaca, yang perlu kita tahu sebenarnya adalah penangkapan pembaca
terhadap hasil tulisan kita. Apakah sama seperti apa yang ingin kita sampaikan?
Jika berbeda, apa yang berbeda (tentu perlu ada ruang imajinasi yang berbeda
antara pembaca dan penulis). Kemudian "keseluruhan" atau
"detail" apa yang tidak disuka. Kalau tidak suka karena selera yang
berbeda, maka bisa jadi pelajaran bahwa org dgn persona seperti dia bukanlah
target pembaca kita. Jika tidak sukanya karena "persepsi" atau
"terjemahan" yang berbeda dari yang sebenanrnya ingin kita sampaikan,
maka mungkin ada penulisan yang perlu diperbaik.
Kalau
saya merasa renjana (passion) sy membuat
buku pelajan fisika. Apakah berarti sebaiknya saya menulis buku pelajaran
fisika sj? Krn sy kalau mencoba menulis buku fisika terasa lebih ringan
dibanding mencoba menulis artikel dll. Untuk tahap pertama maka sebaiknya ibu
pilih buku fisika. Ini untuk menciptakan reward bagi diri kita di awal agar
kita terus termotivasi untuk menulis. Namun setelah itu lebarkanlah sayap...
Coba buat artikel lain yang tetap mengaitkan dengan fisika (ilmiah menjadi
populer) dan berkreasilah dengan genre2 lain... Sebagai tambahan, dapat dibaca
pada jawaban pertanyaan kedelapan.
Bagaimana
cara mudah menulis buku sebagai pemula seperti saya karena bebrapa kali saya
coba selalu gagal. MULAI SAJA DULU
(seperti iklan di tv yaa...). Ini yang paling penting. Jika memang tertarik
dengan penelitian, coba ambil salah satu sudut dari penelitiannya untuk
dijadikan artikel (bukan keseluruhan penelitian). Ambil sisi yang dapat
dibangun konektivitasnya pada pembaca secara umum.
Sebelum
menentukan R(uang) pembaca apakah kita perlu meneliti atau survey untuk calon
pembaca buku kita. Lalu, bagaimana sebaiknya jika kita berharap pembacanya
tidak terlalu spesifik? Pada tahap awal
kita menulis maka sebaiknya kita menulis untuk tujuan diri kita. Apa yang ingin
kita sampaikan. Agar keluar jati diri kita sambil kita melihat yang cocok
dengan tulisan kita itu pembaca yang bagaimana. Baru kemudian kita berkembang,
mulai menulis berdasrkan "pesanan" artinya kita tentukan dulu sasaran
pembacanya. Misalnya menulis untuk remaja maka ada bahasa2 yang perlu
disesuaikan, maka kita menulis dengan "frame" pembaca di kepala
kita... Nanti kita minta pendapat dari pembaca yang dituju sesuai sasaran.
Menulis
buku anak itu tentu untuk membangkitkan minat maka perlu gambar. Apakah ibu
menggambar sendiri atau menggunakan jasa? Atau adakah cara lain mendapatkan
gambar. Saya membuat buku anak dengan
desai berjenjang di awal. Mulai dr pembaca pemula yang hrs penuh dengan gambar.
Untuk ini tentu saya bekerja sama dengan ilustrator. Byk komunitas2 ilustrator
saat ini, termasuk di medsos. Tapi pada jenjang yang lebih tinggi, buku anak
akan lebih sedikit gambarnya bahkan tidak bergambar (novel anak). Nanti bapak tentukan saja di jenjang mana
BApak ingin menuliskannya. JIka tertarik lebih lanjut, akan ada workshopnya
oleh Tangga Edu, silahkan ikuti media sosialnya IG @tanggaedu & FB Tangga
Edu untuk info terkini.
Bgmn cara
menulis secara ilmiah seperti PTK, Best
Practice dengan baik. Dengan rutin
menulis maka sudah MEMULAI... Nanti dari kumpulan tulis itu, pilih beberapa
yang ingin direview dengan serius hingga menjadi tulisan yang siap p
ublikasi... Untuk tulisan ilmiah ke populer, ada di jawaban no. 2
Bagaimana
cara menjadikan PD pada diri sendiri untuk tidak malu tulisannya dibaca orang
lain? Saat tulisan dipublikasikan maka hak penulis terhadap interpretasi terhadap
tulisan itu menjadi hilang. Interpretasi dan tanggapan pembaca tidak bisa kita
kontrol.... Maka perlu kebesaran hati, krn bisa saja tanggapan yang tidak baik
yang kita terima. Nah kalau tentang hak cipta yang dikopi, maka pada saat kita
membaginya di dunia maya, maka kita harus siap bahwa itu menjadi milik publik.
Walaupun itu salah, tapi di dunia maya kita sulit mengkontrolnya.
Berikan
contoh tentang proses kreatif mbak Farrah menulis buku anak. Karena saya menulis buku berjenjang maka
banyak pakem yang harus sy perhatikan. Biasanya saya memulai dr sesuatu value
yang ingin saya kenalkan pada anak tapi tidak dengan cara doktrin tapi
tertangkap. Agar dapat byk ide, maka saya byk menonton film anak, bergaul
dengan anak2 & membaca buku2 anak. Contohnya buku "Sihdeh &
Robot" yang intinya mengenalkan cara menenangkan diri dengan menarik napas
panjang. Kecenderungan anak laki-laki agak sulit untuk menenangkan diri saat
marah, maka diambillah tokoh robot agar relate dengan anak laki. Setelah itu
dibuat prosesnya, termasuk membuat story board.... Dibaca anak2, lalu review
& revisi lagi dst... Dr masukan anak, bahkan judulnya pun ada perubahan.
Apakah
sebelum menulis buku ajar kita tentukan ide-ide atau semacam kerangka tulisan
barulah kita mencari isinya? Saya sudah mengumpulkan buku-buku sbg sumber.Tapi
rasanya masih buntu untuk menulis..kadang berpikir mana dulu yang mau ditulis? Pikiran2
seperti itu yg akhirnya menghambat untuk mulai menulis..Bagaimana mengatasi
seperti ini supaya menjadi sebuah tulisan? Untuk
buku non fiksi qta perlu kerangka, paling tidak poin2 penting yang ingin kita
sampaikan. Tidak bisa memulai karena kita berpikir "keseluruhan" dulu
maka ini akan menghambat di awal. Dari poin2 yang sudah dikumpulkan, pilih satu
dulu yang akan difokuskan dan tuliskan, selesaikan. Ini akan menjadi reward
bagi ibu untuk menulis selanjutnya.
Cara apa
agar bisa menghasilkan buku dengan cepat bagi penulis pemula? Mulai dari yang mudah. Topik yang paling dikuasai.
Tapi tidak ada yang instan, semua harus melalui proses. Proses itu akan semakin
cepat jika segera dimulai.
Terkait R
ke-4. Mnurut pnglman Ibu, brapa persen dari ruang pmbaca dapat ditmpung
masukannya dan bgaiman sikap kita dlm mnerima smua kritikan itu agar tdak trbwa
amarah. Tidak ada rumus baku. Kita
siapkan diri kita untuk terbuka terhadap berbagai masukan. Tapi kita lihat,
kalau dia tidak suka karena berkaitan dengan selera yang berbeda, maka dia
bukan target pembaca kita dan ini informasi berharga bagi kita. Tulisan kita
akan memiliki target pembacanya sendiri. Tapi kalau pembaca tidak suka karena
interpretasi yang salah dari hasil karya kita, maka mungkin cara kita menuliskannya
perlu diperbaiki
Apakah
review buku yang dimaksudkan adalah sebelum buku kita diterbitkan, maka buku
itu kita berikan kepada pembaca tertentu untuk membacanya lalu memberikan
masukan positif atau negatif dari buku yang kita tulis. Lalu, dikembalikan dan
kita revisi setelah itu baru diterbitkan? Betul, tapi bahkan apapun hasil tulisan kita,
kita hadirkan pada pembaca & melihat tanggapannya -- ini bahkan sebelum
proses penerbitan, usaha individu penulis untuk mendapat masukan. Kalau sudah
ke penerbit, maka ada mekanismenya lagi tapi kita pun sudah bisa jelaskan
targetnya siapa, tanggapannya bagaimana kira hingga buku kita itu bisa dibilang
layak terbit.
Gunungkidul,
6 Mei 2020

Mantul ibu... Lngkap..
BalasHapusTerima kasih
HapusLengkap banget, visit ke blog sy juga y:https://naniku2020.blogspot.com/2020/05/terbitkan-bukumu-catatkan-sejarah.html
BalasHapusSiap Bu Nani
HapusSipp bu eni...joss...sukses
BalasHapusAamiin, makasih Bu Eny
Hapusbagus tampilannya juga
BalasHapusAlhamdulillah, ...terima kasih
HapusYap ....siap
BalasHapusMantap bu,ayo maju terus.
BalasHapusbagus bu...maju terus👍
BalasHapusMantab bunda🙏
BalasHapus